Renungan : Belajar dari Hamster


Adakah yang pernah memelihara Hamster? Tahukah kamu bagaimana cara memelihara hamster? Tampaknya mudah tinggal dikasih makan saja tapi sebenarnya, memelihara binatang sekcil itu juga merupakan sesuatu yang sangat sulit. Kondisi ukuran dan kebersihan kandang harus dijaga agar hamster tidak jatuh sakit, Harus ada mainan supaya hamster tidak menjadi gendut dan malas, makanan diberikan juga harus menggunakan tempat sendiri karena jika ditebar begitu saja, makanan yang tidak termakan akan membusuk dan hamster akan menjadi sakit. Hamster juga memerlukan cahaya matahari, namun tidak boleh terlalu terik. Mandiin hamster tidak boleh langsung diguyur, tapi harus dengan air sedikit-demi sedikit sambil disikat pelan-pelan. Dan kalau mau lengkap, hamster harus dipijat untuk melancarkan peredaan darahnya.

Tentu saja dengan perawatan yang banyak seperti itu, saat kita membeli seekor hamster, hidup mati hamster itu ada di tangan kita, pemiliknya. Hamster tersebut bergantung pada kita untuk menjaga dan memeliharanya supaya ia bisa tumbuh dengan sehat.

Demikian juga kita sebagai anak-anak Tuhan harus bergantung pada Tuhan. Kita harus bisa percaya bahwa Tuhan akan mampu menyediakan segala keperluan hidup kita, menjaga dan merawat kita, serta memperhatikan setiap detik kehidupan kita. Kita hidup harus dengan sepenuhnya bergantung pada Tuhan karena Dia lah yang empunya hidup kita masing-masing.

Raja-Raja 17 : 1-16

17:12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak l  dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 17:13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 17:14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan m  ke atas muka bumi."17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya 2 17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Di dalam ayat yang baru kita baca tadi, si perempuan saat itu keadaannya sedang kritis. Dia hanya memiliki secuil makanan yang hanya cukup untuk dia dan anaknya dan setelah itu habis, dia hanya tinggal menunggu mati karena hanya itu saja yang ia miliki. Ia sudah tidak memiliki makanan lagi. Namun saat hamba Tuhan datang dan memintanya untuk memberikan makanan dan minuman itu kepadanya, ia menurut.

Masakan Tuhan akan membiarkan wanita dan anak-anaknya itu kekurangan padahal ia sudah dengan iman memberikan apa yang ia punya untuk pelayan Tuhan? Masakan Tuhan tidak akan menjaga hidupnya?

Begitu pula dalam hidup ini tentu ada banyak lika liku kehidupan yang terjadi. Adakalanya Tuhan melatih hidup kita untuk sepenuhnya bergantung kepadaNya, supaya kita tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri. Akan tetapi setidaknya, saat mengalami masalah janganlah menjadi bimbang sebab Tuhan satu satunya sandaran di dalam hidup ini. Dia memperhatikan kita yang terus berharap dan bersandar kepadaNya.

Oleh karena itu, saat kita sedang mengalami persoalan, misalnya sedang ada masalah sama mama papa, atau lagi ada masalah di sekolah, digangguin temen, hendaknya tetap bergantung kepada Tuhan. Ingatlah bahwa manusia dapat mengecewakan kita, sedangkan Tuhan tidak akan bikin kita kecewa.

Kita perlu menaruh kehidupan ini sepenuhnya kepada Tuhan, sebab Dia adalah sumber segalanya, Dia yang memiliki kuasa atas semuanya. ketika semua yang ada di sekitar kita sudah tidak perduli. Yesus mampu melakukan keajaiban bagi kita, maka  itu sandarkanlah seluruh hidup kita hanya kepada Yesus saja. Lalu, ,kita perlu bergantung pada Tuhan sebab yang ada didekat kita sifatnya hanya sementara, apakah itu kekayaan, ataupun jabatan segalanya dapat lenyap. Hidup yang bergantung pada Tuhan artinya kita benar benar memiliki penyerahan diri. kepadaNya dan tidak berjalan dengan kekuatan sendiri.  Bahkan kita selalu melibatkan Tuhan di dalam setiap apapun yang kita kerjakan.

Menggantungkan kebahagiaan hanya kepada hal-hal duniawi yang ada di sekitar kita, menyebabkan instabilitas sehingga beresiko merusak suasana hati. Saat kita hanya berharap agar orang lain memberikan & melakukan kebaikan kepada diri ini, alhasil keadaan tersebut membuat suasana hati menjadi acak-acakan. Sebab harus dipahami bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar sifatnya sangat fluktuatif, tidak pasti dan tidak stabil. Keadaan inilah yang beresiko menggiring kehidupan kita kepada kepuasan hati yang rasanya gantung/ tanggung. Jadi berharap dan menunggu sampai kita menerima kebaikan dari sesama barulah bahagia adalah penantian yang melelahkan. Ini membuat kita cenderung harap-harap cemas, penuh keraguaan dan ketidakpastian sehingga membuat kita merasa lelah sendiri dalam kesia-siaan.

Mengharapkan dan menunggu orang lain untuk memberikan kebaikan kepada kita sama dengan mengharapkan kenikmatan duniawi sesaat tetap ada/ tetap dikonsumsi. Ini dikarenakan oleh hati manusia butuh sesuatu yang sifatnya kontinu (terus-menerus) keberadaannya. Padahal kebiasaan mengkonsumsi materi secara kontinu berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, mental dan sosial (lihat di atas). Manusia dengan segala kecerdasan yang dititipkan Tuhan, tidak pernah terpuaskan. Hanya ada dua hal yang benar-benar memuaskan hati manusia itu, yakni dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Juga dengan senantiasa beraktivitas/ bekerja sembari memberi manfaat (berbagi kasih) kepada sesama manusia lainnya. 

Kita perlu memiliki tekad yang bulat untuk bergantung terus kepada Tuhan. Tetapi bagaimana kita bisa mengetahui isi hatinya Tuhan jikalau tidak pernah membaca firman-Nya, tidak beribadah bersama, tidak datang dalam perkumpulan dan lain sebagainya. Bila dasar keyakinan kita kuat maka sekalipun ada godaan yang datang dari dalam maupun dari luar, tetap mempertahankannya sampai akhir.

Ketahui juga bahwa saat kita bersandar kepada-Nya saja, sama artinya dengan mempasrahkan seluruh kehidupan dalam kehendak-Nya/ dalam rencana-Nya, artinya sikap kita sehari-haripun tidak jauh-jauh dari firman-Nya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Stress Reduction Tips

Stress Reduction Tips

Expressing Negative Emotions