MEMBANTU ANAK DEPRESI
Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog
Jika anda saat ini sudah
memiliki status orangtua, kemungkinan besar anda sudah tahu apa itu namanya
depresi. Anda mungkin sudah pernah mengalaminya sendiri baik sekarang atau di
masa muda anda. Faktanya adalah, semua orang kemungkinan akan depresi
setidaknya satu kali dalam hidupnya. Ada yang berhasil melewati, ada yang
terbebani depresi seumur hidup. Depresi menyerang siapa saja, tanpa peduli usia,
jenis kelamin, dan suku bangsa. Anak balita juga bisa menunjukkan tanda-tanda
depresi, dan anak-anak dan remaja menghadapi depresi lebih berat karena
kemampuan emosional mereka sebenarnya belum siap untuk menghadapinya.
Walaupun kita sebagai
orangtua juga memiliki kesusahannya masing-masing, ingatlah bahwa di masa-masa
terkelam, seorang anak pasti mengharapkan ada figur orangtua yang bisa
membantunya. Sebelum itu, ini adalah beberapa tanda yang perlu anda lihat untuk
membaca jika anak anda sedang depresi atau tidak. Kadangkala hal ini sulit
dideteksi karena remaja yang depresi cenderung tertutup. Namun, anda bisa
melihat dari beberapa tanda-tanda ini :
1.
Masalah
di sekolah
Depresi
pada remaja umumnya mengakibatkan turunnya pencapaian akademik. Kehilangan minat dalam pelajaran dan
tanggung jawab akademiknya, atau malah hobinya. Selain itu mungkin ada
laporan dari guru bahwa perilaku anak mulai berubah di sekolah, apakah menjadi
semakit pasif atau malah menjadi semakin sulit dikendalikan. Anak-anak mungkin
belum mengerti cara mengelola emosinya sehingga emosi negatif mempengaruhi mood
dan minat mereka dalam melakukan tanggung jawabnya.
2.
Menyalahgunakan
substansi atau aktivitas
Beberapa
remaja mencari pengalihan dengan hal-hal yang memberikan mereka kepuasan langsung
sebagai kompensasi depresi mereka. Banyak yang menjadi kecanduan game, mungkin
vape atau rokok, pornografi, internet, media sosial atau malah narkoba. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan
kenikmatan sesaat yang berguna agar mereka tidak merasakan depresinya.
Namun karena sifatnya sementara, hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga
akhirnya menimbulkan masalah baru.
3.
Menunjukkan
kepercayaan diri rendah
Anak
mungkin menyatakan secara gamblag rasa ketidakmampuannya dalam melakukan tugas,
menyatakan bahwa dirinya kurang, atau menolak untuk melakukan sesuatu karena
takut gagal. Beberapa hal yang terlihat lainnya juga adalah jika anak mulai
terbiasa mengatakan hal negatif mengenai dirinya sendiri dan mengkritik
kelemahannya sendiri. Hal ini terjadi
karena perasaan depresi biasanya melibatkan persepsi negatif ke diri sendiri
dan lemahnya kepercayaan diri dalam melakukan sesuatu.
4.
Perilaku
Tak terkendali
Banyak
remaja yang depresi akhirnya melakukan hal-hal yang mungkin berbahaya seperti
mengebut, melakukan prank yang berbahaya, mencoba hal-hal baru yang sebenarnya
tidak baik, hingga dengan sengaja melanggar peraturan. Kadangkala perilaku
makan tak terkendali, perilaku seksual yang berlebihan, hingga tidak
memperhatikan keselamatan diri sendiri. Hal
ini digunakan untuk mencari ledakan emosi positif/adrenalin yang bisa
meringankan sedikit perasaan negatif karena depresi mereka.
5.
Kekerasan
Beberapa
remaja melampiaskan kemarahan dan kesedihannya dalam bentuk perilaku agresi. Anak
menjadi reaktif, dimana emosinya mudah tersulut. Agresi bisa dikeluarkan secara
verbal seperti mengumpat, menghina, atau menggunakan kata-kata kasar dalam
percakapan demi menyakiti orang lain. Selain itu juga ada perilaku agresif
secara fisik seperti memukul, membanting, menendang, hingga berkelahi. Hal ini biasanya dilakukan sebagai usahanya
untuk membuat dirinya “netral” lagi. Ia merasakan emosi negatif dan dalam
usahanya “menyeimbangkan” dunia, ia membuat orang lain merasa sakit juga.
6.
Menutup
diri
Salah satu
reaksi pertama remaja yang merasa depresi dan bingung dengan perasaannya
sendiri adalah MALU. Dalam usaha
untuk tidak ketahuan jeleknya oleh orang lain, anak akan menutup diri. Beberapa
anak menghindari teman dan orangtua, hingga ada yang kabur dari rumah.
7.
Pikiran
Bunuh Diri
Dalam depresi, seringkali remaja berpikir jika kematian akan membuatnya berhenti merasakan sakit. Anak mungkin berpikir ingin mati, membayangkan kematian, atau malah sudah merencanakan bagaimana dia ingin mati. Kadang ini muncul dalam bentuk gambar, kata-kata, atau perilaku anak yang menyakiti diri sendiri. Ini tidak selalu terlihat secara gamblang, namun INI ADALAH LAMPU MERAH DAN HARUS SEGERA DIINTERVENSI.
LALU, APAKAH YANG HARUS DILAKUKAN ORANGTUA?
1.
LISTEN,
NOT LECTURE
Salah satu
hal yang paling sulit dilakukan remaja yang sedang mengalami depresi adalah
membuka diri. Kalaupun mereka mencoba membuka diri, kadangkala sulit untuk
dengan jelas mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Karena itu tugas pertama orangtua adalah untuk mendengarkan anak
berbicara dengan sabar tanpa berusaha untuk membenarkan atau memberikan
nasehat. Tahan dorongan untuk mengkomentari atau mengkritik anak saat
berbicara karena hanya akan membuat anak kembali menutup diri. Biarkan anak
tahu bahwa orangtua akan menemani mereka dalam proses mereka. Mungkin di awal
mereka akan menolak, namun jangan memaksa. Anak perlu tahu bahwa jika suatu
hari mereka memutuskan untuk terbuka, orangtua akan menjadi tempat yang aman
untuk mereka bisa membuka perasaannya, walaupun perasaannya mungkin negatif.
Walaupun cara berpikirnya atau pendapat anak terkesan tidak masuk akal atau
konyol sekalipun, tugas orangtua adalah berempati bahwa saat ini emosi negatif
yang dirasakan anak adalah sesuatu yang serius. Pemberian nasihat hanya
dilakukan saat anak sudah terbuka.
2.
SEDIAKAN
WAKTU RUTIN
Depresi
tidak akan hilang hanya dalam satu kali pertemuan ataupun setelah anak
diberikan pepatah atau kata-kata mutiara. Depresi adalah perang emosional yang
berkepanjangan dan anak akan memerlukan tuntunan. Coba sediakan waktu khusus untuk anda dengan anak anda berbicara, waktu
dimana fokus anda akan ada sepenuhnya untuk anak tanpa multitasking atau
interupsi. Hal simple ini akan membuat anak menjadi nyaman dengan anda
sehingga membantu proses keterbukaan. Hal ini mungkin tidak akan selalu
menyelesaikan masalah namun akan membantu anak untuk menjadi lebih positif
dalam prosesnya.
3.
LAWAN
KESENDIRIAN
Sebisanya
pastikan bahwa anak tetap memiliki hubungan interaksi sosial baik dengan teman
atau setidaknya dengan keluarga. Kesendirian hanya akan menambah depresi
sehingga kita melakukan ini agar anak memiliki kesempatan untuk membangun
koneksi dengan orang lain. Sarankan
aktivitas seperti olahraga, klub, kelas tambahan, kegiatan apapun yang
berhubungan dengan talenta dan minat anak masing-masing. Walaupun di awal
mereka terlihat tidak bersemangat, semakin mereka melakukan kegiatan yang
menyenangkan untuk mereka, perasaan positif mereka akan semakin meningkat. Ada
kalanya mengajak anak untuk melakukan kegiatan yang sifatnya humanis juga bisa
menjadi antidepresan yang baik karena memberi anak sense of purpose. Lakukan
bersama anak sehingga ada proses bonding.
4.
CARI
SOLUSI
Saat anak sudah mulai merasa bahwa orangtua adalah tempat aman untuknya curhat dan dia sudah memiliki bekal beberapa emosi dan pengalaman positif, waktunya untuk mulai mencari solusi. Untuk hal ini, tergantung akar depresi anaknya, penanganannya bisa berbeda-beda, namun konsep yang digunakan tetap sama, yaitu orangtua tidak sedang mengendalikan anak, namun menjadi partner anak untuk mencari solusi. Orangtua tidak selalu mengambil peran sebagai “orang yang lebih tahu” melainkan bersama anak mendiskusikan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh anak dan orangtua untuk membantu proses penyembuhan. Anak harus terlibat dimana dia juga memberikan masukan dan ide karena hal ini juga akan menambah ketahanan anak terhadap depresi di kemudian hari. Jangan meremehkan ide atau preferensinya dalam proses ini. Tetap bersikap terbuka walaupun dalam pencarian solusi menyinggung anda maupun pola asuh anda. Jika diperlukan, anak bisa disarankan untuk melakukan konseling dengan profesional. Namun pilihan apapun yang akan dicoba nantinya, anak harus tahu bahwa orangtua akan mendukungnya.
Sebagai orangtua, memiliki anak yang sedang depresi
bisa menjadi sebuah tantangan yang berat sehingga dalam proses, kesehatan
emosional anda sebagai orangtua juga harus selalu diperhatikan. Beberapa kali mungkin
anda akan tidak sabaran dan terdorong untuk emosi pada anak, menuntut dirinya
menyelesaikan masalahnya dengan segera. Sebelum anda melakukan hal ini,
ingatlah bahwa ini hanya akan memperkeruh hubungan anda dengan anak dan
mendorong anak semakin jauh ke dalam depresi.
Referensi :
Papalia, D. E., Olds, S. W. & Feldman, R.
D. (2008). Human development (10th
Ed.). New York : McGraw Hill.
Pellegrini, A. D. & Blatchford, P. (2000). The child at school : Interaction with Peers and Teachers. Great Britain : Arnold.
Santrock, J. W. (2006). Life span development (10th Ed.). New York : McGraw Hill.
Comments
Post a Comment