Persahabatan Toxic

Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog

Semua orang memerlukan teman dan tidak semua orang bisa menjadi teman yang baik. 1

Konsep utama persahabatan

-        Hubungan, baik pertemanan, keluarga, hingga hubungan romantis, pada dasarnya memiliki satu prinsip besar : Positif untuk kedua belah pihak, dimana ada hak dan tanggung jawab yang dirasakan oleh kedua belah pihak serta effort yang bersifat dua arah.

-        Idealnya, dengan demikian, hubungan pertemanan akan menjadi saling membangun.

-        Di saat salah satu pihak saja yang melaksanakan tanggung jawabnya, ataupun ada salah satu pihak yang selalu harus ditoleransi, hubungan bisa berjalan, namun sifatnya menjadi destruktif.

-        Pertemanan yang destruktif tidak selalu bentuknya saling menyakiti atau penuh dengan konflik. Kadang ada pertemanan yang kelihatannya baik-baik saja namun semua anggotanya perlahan-lahan mundur secara emosi, perilaku, atau malah pencapaian.

-        Ada pertemanan yang membangun secara emosional namun malah menjatuhkan secara perilaku, misalnya anggota geng berandalan menikmati persahabatan mereka dan memiliki kedekatan emosional yang baik, namun membuka celah untuk masuknya perilaku-perilaku kriminal. Ada pertemanan yang baik secara emosional, dan tidak menambah masalah perilaku, namun mengganggu pencapaian anggotanya baik dalam akademik, pekerjaan, maupun hidup secara general.

 

2.      Tanda-tanda pertemanan sudah menjadi toxic. Boleh coba dicek siapa tau saat ini ada yang seperti itu.

-        Jika ada satu pihak yang meningkat secara kualitas hidupnya, namun pihak lain malah menurun. Dimana hanya satu pihak saja yang diuntungkan sementara pihak lain merugi.

-        Kamu merasa bahwa kamu harus selalu mentoleransi perbuatan temanmu, seburuk apapun itu namun kamu sendiri harus hati-hati dalam bertindak agar temanmu tidak tersinggung.

-        Perkataanmu, pendapatmu dan pilihanmu tidak dianggap lebih penting daripada temanmu.

-        Respon dari teman terhadap apa yang kamu lakukan seringkali negatif dan mungkin berlebihan. Banyak kritikan dan penghakiman.

-        Saat bertemu teman, menerima chat, telepon, maupun mendengar nama mereka, emosi yang muncul pertama kali bukanlah emosi positif.

-        Pembicaraanmu dengan teman cenderung berfokus pada hal-hal negatif. Atau pembicaraanmu selalu berfokus dengan kebutuhan temanmu.

-        Temanmu menikmati saat bisa mendominasi ataupun menyinggung perasaanmu namun kamu tidak boleh marah.

-        Teman bersikeras dengan sikap-sikap negatifnya dan meminta dirimu untuk mengerti dan mentoleransi penderitaannya, namun tidak melakukan usaha untuk berubah. Sulit menerima saran atau nasihat.

-        Kualitas interaksi denganmu tergantung mood-nya

-        Temanmu boleh melakukan sesuatu namun saat kamu yang melakukan, ia langsung mengkritik dengan keras.

-        Saat berteman dengannya, kamu merasa insecure, merasa bersalah, merasa bahwa kamu bukanlah teman yang baik. Kamu merasa tidak aman untuk menunjukkan dirimu.

-        Kamu mulai tidak percaya dan merasa harus berhati-hati agar tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerangmu. Kamu mulai curiga dengan motivasi mereka.

-        Setelah beraktivitas dengan teman-temanmu, kamu merasa capek, lelah, dan seakan tenagamu habis. Mood-mu jadi buruk.

-        Teman-temanmu terus-menerus memaksamu melakukan hal-hal yang tidak baik. Kamu mulai melakukan hal-hal buruk yang biasanya mereka lakukan.

-        Kamu merasa baik-baik saja dengan teman-temanmu, namun penilaian lingkungan terhadap dirimu semakin ke arah negatif sejak berteman dengan mereka.

-        Masalahmu menjadi semakin berat, emosimu menjadi semakin negatif, hidup sepertinya menjadi semakin ribet sejak berteman dengannya.

Comments

Popular posts from this blog

Stress Reduction Tips

Stress Reduction Tips

Expressing Negative Emotions