Persahabatan Toxic
Semua orang memerlukan teman dan tidak semua orang bisa menjadi teman yang baik. 1
Konsep utama persahabatan
-
Hubungan, baik pertemanan,
keluarga, hingga hubungan romantis, pada dasarnya memiliki satu prinsip besar :
Positif untuk kedua belah pihak, dimana ada hak dan tanggung jawab yang
dirasakan oleh kedua belah pihak serta effort yang bersifat dua arah.
-
Idealnya, dengan demikian,
hubungan pertemanan akan menjadi saling membangun.
-
Di saat salah satu pihak saja yang
melaksanakan tanggung jawabnya, ataupun ada salah satu pihak yang selalu harus
ditoleransi, hubungan bisa berjalan, namun sifatnya menjadi destruktif.
-
Pertemanan yang destruktif tidak selalu
bentuknya saling menyakiti atau penuh dengan konflik. Kadang ada pertemanan
yang kelihatannya baik-baik saja namun semua anggotanya perlahan-lahan mundur
secara emosi, perilaku, atau malah pencapaian.
-
Ada pertemanan yang membangun
secara emosional namun malah menjatuhkan secara perilaku, misalnya anggota geng
berandalan menikmati persahabatan mereka dan memiliki kedekatan emosional yang
baik, namun membuka celah untuk masuknya perilaku-perilaku kriminal. Ada
pertemanan yang baik secara emosional, dan tidak menambah masalah perilaku,
namun mengganggu pencapaian anggotanya baik dalam akademik, pekerjaan, maupun
hidup secara general.
2. Tanda-tanda pertemanan sudah menjadi toxic. Boleh coba dicek siapa tau saat ini ada yang seperti itu.
-
Jika ada satu pihak yang meningkat
secara kualitas hidupnya, namun pihak lain malah menurun. Dimana hanya satu
pihak saja yang diuntungkan sementara pihak lain merugi.
-
Kamu merasa bahwa kamu harus
selalu mentoleransi perbuatan temanmu, seburuk apapun itu namun kamu sendiri
harus hati-hati dalam bertindak agar temanmu tidak tersinggung.
-
Perkataanmu, pendapatmu dan
pilihanmu tidak dianggap lebih penting daripada temanmu.
-
Respon dari teman terhadap apa
yang kamu lakukan seringkali negatif dan mungkin berlebihan. Banyak kritikan
dan penghakiman.
-
Saat bertemu teman, menerima chat,
telepon, maupun mendengar nama mereka, emosi yang muncul pertama kali bukanlah
emosi positif.
-
Pembicaraanmu dengan teman
cenderung berfokus pada hal-hal negatif. Atau pembicaraanmu selalu berfokus
dengan kebutuhan temanmu.
-
Temanmu menikmati saat bisa
mendominasi ataupun menyinggung perasaanmu namun kamu tidak boleh marah.
-
Teman bersikeras dengan
sikap-sikap negatifnya dan meminta dirimu untuk mengerti dan mentoleransi
penderitaannya, namun tidak melakukan usaha untuk berubah. Sulit menerima saran
atau nasihat.
-
Kualitas interaksi denganmu
tergantung mood-nya
-
Temanmu boleh melakukan sesuatu
namun saat kamu yang melakukan, ia langsung mengkritik dengan keras.
-
Saat berteman dengannya, kamu
merasa insecure, merasa bersalah, merasa bahwa kamu bukanlah teman yang baik. Kamu
merasa tidak aman untuk menunjukkan dirimu.
-
Kamu mulai tidak percaya dan
merasa harus berhati-hati agar tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu yang
bisa digunakan untuk menyerangmu. Kamu mulai curiga dengan motivasi mereka.
-
Setelah beraktivitas dengan
teman-temanmu, kamu merasa capek, lelah, dan seakan tenagamu habis. Mood-mu
jadi buruk.
-
Teman-temanmu terus-menerus
memaksamu melakukan hal-hal yang tidak baik. Kamu mulai melakukan hal-hal buruk
yang biasanya mereka lakukan.
-
Kamu merasa baik-baik saja dengan
teman-temanmu, namun penilaian lingkungan terhadap dirimu semakin ke arah
negatif sejak berteman dengan mereka.
-
Masalahmu menjadi semakin berat,
emosimu menjadi semakin negatif, hidup sepertinya menjadi semakin ribet sejak
berteman dengannya.
Comments
Post a Comment