Perkembangan Anak secara Garis Besar
Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog
Berikut adalah tahapan perkembangan anak secara general berdasarkan periode usia. Pembahasan masing-masing periode bisa membutuhkan banyak waktu sehingga setidaknya memiliki gambaran terlebih dahulu secara garis besarnya apa yang menjadi sorotan dalam masa perkembangan anak.
Periode Prenatal (Kandungan)
Secara
fisik, struktur tulang belakang dan otak mulai berkembang. Karena itu pada masa
ini penting sekali pa yang dimakan oleh orang tua karena perkembangan otak
memerlukan nutrisi yang baik. Jika perkembangan otak dan struktur tulang
belakang terganggu, akan menimbulkan berbagai masalah mulai dari cacat mental
hingga cacat secara fisik.
Pada masa
ini, janin sudah memiliki beberapa kemampuan indra dan kemampuan belajar
menggunakan indra tersebut. Janin merespon suara dan sentuhan dari
lingkungannya. Janin merespon suara ibu dan mampu mengingatnya. Karena ada
koneksi langsung dengan ibu, nada suara, emosi, dan cara bicara ibu akan
terekam oleh anak.
Tahap Balita (Lahir – 3 tahun)
Perkembangan
fisik paling cepat pada tahap ini. Otak menerima hampir semua input dari
lingkungan. Perkembangan fisik membuat anak mulai bergerak, berganti-ganti
posisi, dan menggunakan gerakan tubuh untuk menunjukkan emosi dan keinginannya.
Anak menghabiskan kebanyakan waktunya untuk tidur karena otak memerlukan waktu
untuk beradaptasi dan menyimpan informasi.
Anak sudah
mulai belajar untuk mengingat dan menggunakan gerak tubuh ataupun simbol untuk
menunjukkan keinginannya. Bahasa anak mulai berkembang mulai dari mumbling
hingga kata-kata dasar. Input utama anak adalah berdasarkan indra seperti
penglihatan, pendengaran, sentuhan fisik, bau, dan rasa.
Pada tahap
ini, anak mulai mengenali figur-figur dominan dalam hidupnya dan orang-orang
lain di sekitarnya. Keterikatan pada orangtua mulai terbentuk dan ketertarikan
dengan benda dan orang di sekitarnya mulai bertumbuh. Anak mulai sadar terhadap
perilakunya serta respon dari lingkungan (mobil kalau didorong bisa jalan,
pintu kalau ditarik bisa terbuka, kalau anak liat ada kamera dia langsung
bergaya). Anak juga mengingat respon tersebut dan hal-hal yang memberikan
respon positif akan diulangi, respon negatif akan dihindari.
Tahap kanak-kanak awal (3 – 6 tahun)
Fisik
berubah dari bayi yang bulat bulat menjadi lebih proporsional mendekati bentuk
tubuh dewasa. Gerakan tubuh yang masih kaku dan awkward pada masa balita
menjadi lebih terkontrol (anak bayi susah ngambil barang kecil, tapi mereka
sudah mulai bisa).
Pada masa
ini, cara berpikir anak masih egosentris, dimana anak masih lebih banyak memikirkan
keinginan dan kesenangannya sendiri. Namun seiring waktu, anak akan belajar
untuk melihat respon orang lain dan belajar untuk memahami keinginan orang lain
juga. Bahasa dan daya ingat juga semakin berkembang walaupun masih ada
pengertian-pengertian yang tidak logis mengenai dunia di sekitarnya (mobil bisa
terbang, papa bisa pergi ke matahari).
Pada tahap
ini, konsep diri anak dan pengertian mengenai emosi diri dan orang-orang di
sekitarnya sudah mulai terbentuk. Konsep diri mereka masih berdasarkan dengan
input dari lingkungan, terutama figur-figur otoritas (“DASAR ANAK NAKAL!!”, “Oh
iya, aku anak nakal”). Anak cenderung lebih berinisiatif melakukan sesuatu,
memiliki rsa ingin tahu, dan mengembangkan kemandirian menjauh dari orangtua.
Anak juga mengerti mengenai bermain secara imaginatif (masak-masakan, main
dokter, drama, etc). Anak mulai mengembangkan respon emosi terhadap
situasi-situasi tertentu, anak mulai bisa melakukan sesuatu untuk orang lain
(berbuat baik dan atau hal-hal jahat yang menimbulkan emosi positif pada anak
seperti dia kalau lempar lego waktu bayi, mamanya senyum dan ketawa, jadinya
dia pikir itu hal bagus.) Perkembangan moral anak masih tergantung respon
positif atau negatif dari lingkungan. Fokus anak masih pada apa yang
menghasilkan respon positif atau negatif dari lingkungannya.
Tahap kanak-kanak menengah (6 – 11 tahun)
Kemampuan
dan kekuatan fisik anak semakin berkembang. Pada tahap ini, anak mungkin akan
mengalami beberapa masalah kesehatan namun biasanya tahap ini adalah tahap dimana
anak berada dalam puncak kesehatannya.
Egosentris
mulai berkurang. Anak mulai belajar untuk memahami orang lain dan berpikir
secara logis. Kemampuan ingat dan bahasa anak berkembang pesat. Pada tahap ini
juga biasanya ditemui jika ada hal-hal kognitif unik pada anak (dyslexia, sulit
konsentrasi, kemampuan berhitung lebih pesat dibandingkan kemampuan menggambar).
Pada masa ini, anak berfokus agar dirinya menjadi orang yang disukai oleh
anak-anak lain, bukan hanya orangtua, termasuk dalam pencapaian akademik dan
accomplishments lainnya.
Konsep diri
anak menjadi semakin kompleks, bukan hanya dari penilaian orang luar saja.
Harga diri anak sekarang terbentuk dari penilaian luar dan dirinya sendiri (but
of course, penilaian terhadap diri sendiri bergantung pada penilaian luar pada
masa kanak-kanak awal. Anak mulai mengkonfirmasi penilaian orang lain dengan
penilaiannya sendiri ( “Nilai matematikaku jelek. Bener kata mama, aku anak
bodoh dan pemalas. Aku bodoh dan pemalas.”). Anak mulai mengambil kontrol dalam
beberapa bagian kehidupannya, menjadi semakin mandiri, dan figur orangtua mulai
tergeser oleh figur guru, kerabat, dan teman-teman sekolah.
Tahap remaja dan dewasa muda (11 – 20 tahun)
Anak
memasuki masa pubertas dimana karakteristik seks masing-masing mulai bertumbuh
(bulu, jakun, payudara berkembang, datang bulan, etc). Anak mulai dewasa secara
reproduktif dan tubuh seringkali dipengaruhi oleh perubahan hormon. Pada masa
ini, anak paling rentan terhadap masalah-masalah seperti stress, depresi, emosi
tidak stabil, hingga masalah-masalah berat seperti eating disorder atau
penyalahgunaan zat-zat adiktif.
Anak sudah
mulai berpikir secara abstrak dan tidak terpaku lagi dengan logika yang kaku
(Berpikir andai ini andai itu). Kemampuan berpikir kritis dan ilmiah mulai
dewasa namun pada beberapa individu, cara berpikir yang tidak dewasa masih
tetap menempel (anak yang waktu kecil dimanja, pada masa remaja masih berpikir
“orang lain harus menuruti keinginan saya”, anak yang waktu kecil seringkali dimarahi,
pada masa remaja mungkin berpikir “semuanya salahku”. Fokus remaja pada
umumnya adalah pekerjaan, pernikahan, dan karir masa depan.
Anak mulai
mencoba untuk mencari identitasnya sendiri. Siapa dirinya, apa pengaruh
hidupnya terhadap dunia di sekitarnya. Hubungan dengan orangtua biasanya mulai
berkurang, digantikan dengan hubungan dengan teman-teman seusianya, dimana
orangtua tak bisa mengendalikan pengaruh apa yang akan diberikan oleh
teman-temannya. Kepribadian yang terbentuk sejak masa kanak-kanak menjadi
relatif stabil dan kemungkinan tidak akan berubah seumur hidup, KECUALI jika
dipengaruhi oleh trauma berat atau pengalaman hidup yang signifikan.
Referensi :
Papalia, D. E., Olds, S. W. & Feldman, R.
D. (2008). Human development (10th
Ed.). New York : McGraw Hill.
Santrock, J. W. (2006). Life span development (10th Ed.). New York : McGraw Hill.
Comments
Post a Comment