KESEPIAN
Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog
APA ITU KESEPIAN
Gierveld (1998) menyatakan
kesepian adalah sebuah pengalaman tidak mengenakkan yang muncul saat hubungan
sosial seseorang itu defisit dalam area-area tertentu, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif. Loneliness
adalah menjadi sebuah pengalaman bahwa adanya kekurangan dalam hubungan
interpersonal dibandingkan dengan yang diharapkan oleh seseorang atau situasi
kedekatan yang diharapkan oleh seseorang tidak terjadi sesuai dengan keinginan.
Dalam hal ini, kesepian berkaitan dengan bagaimana seseorang mempersepsikan,
mengalami, dan mengevaluasi isolasi dirinya serta kurangnya komunikasi dengan
orang lain.
Britannica Encyclopedia (2018)
juga mendefinisikan loneliness sebagai
pengalaman tidak mengenakkan yang muncul saat relasi seseorang dipersepsikan
tidak cukup baik secara kuantitas, terutama secara kualitas daripada apa yang
diinginkan. Pengalaman ini bersifat subjektif, dimana seseorang bisa merasa
kesepian walau sedang ada di tengah kumpulan orang lain. Kesepian yang
berkepanjangan dihubungkan dengan depresi, dukungan sosial yang lemah,
kecemasan.
Oppong (2019) menyatakan dalam
sebuah titik dalam kehidupan, setiap orang akan merasa kesepian. bahwa merasa kesepian tidak sama dengan
menyendiri. Seseorang bisa sendiri, namun tidak merasa kesepian, dan bisa merasa
kesepian walaupun tidak sendiri. Kesendirian bisa digunakan untuk refleksi,
menikmati diri sendir, serta pertumbuhan internal. Namun kesepian adalah di
saat seseorang merasa terputus dan terpisah dari lingkungan. Cigna (2019) juga
menjelaskan bagaimana orang yang paling supel dan ceriapun bisa mengalami
kesepian.
Walaupun semua orang memiliki
keinginan untuk terkoneksi dengan orang lain, banyak yang akhirnya merasa
kesepian. Kesepian adalah suatu kondisi distress atau ketidaknyamanan yang
diakibatkan oleh sebuah ketidaksenjangan yang dipersepsikan seseorang antara
koneksi sosial yang diinginkan dengan kenyataan yang sedang dialami (Psychological
Today, 2020). Hal ini juga didukung dengan pernyataan Cherry (2020) bahwa
kesepian bukanlah sebuah kondisi sendirian namun merupakan kondisi pikiran,
dimana seseorang berpikir bahwa ia sendirian dan terisolasi walaupun ada di
tengah banyak orang. Killam (2020) menyatakan juga bahwa kesepian bukanlah
sebuah hal yang selalu negatif. Ada kalanya, kesepian bisa dikatakan sebagai
cara sistem internal kita sendiri untuk merefleksikan peran kita dalam
lingkungan dan bagaimana kita bisa mengambil tindakan untuk membangun koneksi
dengan lingkungan.
CIRI-CIRI
ORANG YANG KESEPIAN
Karakteristik dari orang yang
sedang mengalami kesepian bisa berbeda-beda tergantung situasi yang sedang
dihadapi oleh masing-masing orang. Namun ada beberapa karakteristik yang
mungkin satu atau banyak muncul pada
orang-orang yang menandakan bahwa ia sedang kesepian : (dalam Cigna, 2019 ;
Raypole, 2019)
·
Ketidakmampuan
untuk terkoneksi dengan orang lain dalam level yang lebih dalam dan intim.
·
Tidak
memiliki teman dekat atau teman baik. Merasa tidak ada orang yang mengerti.
·
Perasaan
terisolasi yang besar tanpa dipengaruhi lokasi dan siapa yang sedang ada di
dekat. Merasa teralienasi.
·
Perasaan
negatif yang berisi meragukan diri sendiri dan merendahkan diri sendiri, merasa
tidak berharga, merasa tidak ada harapan.
·
Saat
mencoba untuk terkoneksi dengan orang lain, merasa tidak dibalas serupa atau
tidak terlihat dan tidak terdengar.
·
Merasa
lelah saat harus berhubungan sosial dengan orang lain.
·
Energi
berkurang
·
Sulit
fokus
·
Pola
makan dan pola tidur terganggu
·
Sakit
secara fisik atau mudah sakit
·
Perasaan
cemas atau gelisah
·
Muncul
perilaku-perilaku negatif atau malah destruktif
·
Mencari
kehangatan fisik
PENYEBAB
KESEPIAN
Robert Weiss (1970) dalam Shpancer (2020)
mengatakan bahwa ada 6 kebutuhan sosial yang jika tidak dipenuhi akan
mempengaruhi munculnya rasa kesepian, yaitu kebutuhan attachment, social
integration, nurturance, reassurance of worth, sense of reliable alliance, dan
guidance in stressful situations :
1.
Attachment
à
didapatkan oleh hubungan dimana seseorang merasa mendapatkan keamanan dan
sekuritas.
2.
Social
Integration à didapatkan oleh sebuah hubungan dimana
individual bisa berbagi minat dan ketertarikan.
3.
Opportunity
for Nurturance à didapatkan dari sebuah hubungan dimana
seseorang merasa bertanggung jawab terhadap well-being orang lain.
4.
Reassurance
of Worth à didapatkan dari hubungan dimana skill
dan kemampuan seseorang bisa diakui.
5.
Reliable
Alliance à didapatkan dari hubungan dimana
seseorang bisa mengandalkan adanya bantuan dalam situasi apapun.
6.
Guidance
à
didapatkan dari hubungan dimana ada individu yang bisa dipercaya dan berperan
autoritatif yang bisa menyediakan nasehat dan bantuan.
Britannica Encyclopedia (2018) Pendekatan
behavioral mengatakan bahwa ada aspek kepribadian yang menyebabkan munculnya
kesepian seperti kecemasan, rasa malu, kesedihan, hostility, ketidakpercayaan,
dan low self-esteem, dimana karakter-karakter ini akan mengganggu cara orang
berinteraksi dengan positif dan menjadi sulit mempertahankan hubungan dengan
orang lain. Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kesepian disebabkan oleh
perbedaan antara persepsi, ekspektasi, dengan kenyataan. Selain itu ada juga
distorsi kognitif yang mengganggu proses interaksi dengan orang lain.
DAMPAK
KESEPIAN
Cherry (2020) menyatakan bahwa
kesepian membuat seseorang merasa kosong, sendiri, dan tidak diinginkan. Orang
yang kesepian biasanya menginginkan kontak dengan manusia lain namun kondisi
pikiran membuat hal tersebut menjadi sulit untuk membangun hubungan dengan
orang lain.
Britannica Encyclopedia (2018)
menyatakan bahwa orang kesepian cenderung memiliki ekspektasi negatif ke
lingkungan sehingga menambah resiko mereka akan berperilaku dengan cara yang
hanya akan mendorong orang lain untuk menjauh. Kacamata negatif yang seringkali
dimiliki oleh orang yang kesepian juga menginterpretasikan setiap kejadian
menjadi buruk sehingga mempengaruhi cara mereka dalam menghadapi stress.
Beberapa kesepian biasanya
bersifat sementara, namun jika dirasakan dalam jangka panjang bisa menjadi
kronis dan memiliki konsekuensi yang serius. Kesepian biasa dikaitkan dengan
masalah mental lain seperti depresi, kecemasan, konflik interpersonal,
kerentanan kesehatan, hingga bunuh diri. Orang yang kesepian cenderung menarik
diri, interaksi sosial membuat menjadi cemas dan menghindar walau sebenarnya
hubungan sosial dengan lingkungan sangat dibutuhkan. Orang yang kesepian merasa
tidak dikasihi dan tidak akan ada orang yang akan menemaninya. Seringkali ada
sikap perfeksionis dalam memilih teman dimana individu yang mengalami kesepian
seringkali menuntut hal yang mustahil dalam persahabatan dan cinta. Seringkali
orang yang kesepian meminta perhatian, rasa diinginkan, diperhatikan, dan di
saat yang sama sangat sadar dan waspada terhadap eksposur. Orang yang kesepian
tidak memiliki hubungan yang sebenarnya dengan diri sendiri dan orang lain,
melainkan mencari validasi diri mereka melalui cara orang lain memandang
dirinya. Hal ini menyebabkan sebuah lingkaran yang fatal dimana orang yang
kesepian menarik diri, merasa terisolasi, yang kemudian menambah kewaspadaan dan
kepekaan terhadap ancaman sosial, yang akhirnya menimbulkan penarikan diri yang
lebih (Oppong, 2019).
Cherry (2020) menambahkan bahwa
orang yang kesepian secara berkepanjangan akan lebih rentan terhadap masalah seperti
fungsi otak yang berubah, alzheimer, perilaku antisosial, substance abuse
seperti alkohol dan obat-obatan, penyakit kardiovaskular, stroke, pengurangan
kerja memori dan kemampuan belajar, depresi, stress level yang meningkat secara
berkepanjangan, serta pemilihan keputusan yang lemah. Selain itu, orang yang
kesepian cenderung jarang berolahraga sehingga mengundang celah untuk masalah
kesehatan.
Orang yang kesepian membuat dua
kesalahan : (Thompson, 2003)
1.
Saat
di situasi sosial, orang yang kesepian merasa bahwa dirinya sedang dievaluasi
oleh orang lain, dimana mereka mulai mengkhawatirkan bagaimana orang memandang
diri mereka, kesan yang mereka tunjukkan, dan menjadi bersikap kaku dan tegang
dalam berbaur.
2.
Karena
mereka merasa mereka sedang dievaluasi oleh orang lain, saat mereka ditolak oleh
orang lain, itu menjadi sebuah bukti bahwa mereka tidak cukup, mereka gagal,
mereka tidak menarik atau tidak bagus.
Dalam hal ini, orang yang kesepian
seringkali memiliki pola pikir yang cenderung toxic dan negatif seperti
mengkritik diri sendiri, menjatuhkan diri sendiri, dan lain-lain. Karena itu,
kesepian yang berkepanjangan juga akan membuat distorsi dalam pola pikir serta
menghancurkan self-esteem.
DAFTAR
PUSTAKA
Cherry,
K. (23 March 2020). The Health
Consequences of Loneliness : Causes and health consequences of feeling lonely. Very Well Mind. Diunduh dari http://www.verywellmind.com/loneliness-causes-effects-and-treatments-2795749 pada tanggal 16 Agustus 2020.
Cigna
(March 2019). Signs and Symptoms of Chronic Loneliness. Diunduh pada tanggal 16
Agustus 2020.
Gierveld, J.D.J. (1998). A review of loneliness: concept
and definitions,
determinants
and consequences. Reviews in Clinical
Gerontology, 8:73-80.
Hansen,
B. (8 July 2018). 10 More Ideas to Help with Loneliness. Psych Central. Diunduh dari https://psychcentral.com/blog/10-more-ideas-to-help-with-loneliness/ pada tanggal 16 Agustus 2020.
Jackson-Gibson,
A. (3 February 2020). 16 Things to Do When You’re Feeling Lonely, According to
Experts. Good House Keeping. Diunduh
dari https://www.goodhousekeeping.com/health/wellness/a28915137/what-to-do-when-lonely/ pada tanggal 16 Agustus 2020.
Killam,
K. (6 August 2020). Five Major Myths about Loneliness. Psychology Today. Diunduh
dari http://www.psychologytoday.com pada tanggal 16 Agustus 2020.
Loneliness.
(6 Desember 2018). Dalam Encyclopedia
Britannica Online. Diunduh dari https://www.britannica.com/science/loneliness pada tanggal 16 Agustus 2020.
Oppong,
T. (2019). The Psychology of Loneliness and What You Can Do About It. Learning
how to connect with others and curate better friendships. Personal Growth, Medium. Diunduh dari https://medium.com/personal-growth/the-psychology-of-loneliness-and-what-you-can-do-about-it-4b113adfaed6 pada tanggal 16 Agustus 2020.
Plotnik,
R. & Kouyoumdjian, H. (2008). Introduction
to Psychology (8th ed.). United States of America : Thomson Wadsworth.
Psychological
Today International. (2020). Loneliness : Social Isolation. Diunduh dari https://www.psychologytoday.com/intl/basics/loneliness pada tanggal 16 Agustus 2020.
Raypole,
C. (25 June 2019). Is Chronic Loneliness Real?. Health Line. Diunduh dari https://www.healthline.com/health/mental-health/chronic-loneliness#takeaway pada tanggal 16 Agustus 2020.
Rubin,
G. (2017). 7 Types of Loneliness and Why it Matters. Psychology Today. Diunduh dari http://www.psychologytoday.com pada tanggal 16 Agustus 2020.
Shpancer,
N. (19 January 2020). Are You Feeling Lonely? If So, You Are Not Alone :
Loneliness is common but it’s not benign. Psychology
Today. Diunduh dari http://www.psychologytoday.com pada tanggal 16 Agustus 2020.
Thompson,
R.A. (2003). Counseling Techniques (2nd
ed.). New York : Brunner-Routledge.
Comments
Post a Comment