MENGENAL STRESS

 Stress itu adalah sebuah bagian yang tidak bisa dihindarkan dalam hidup. Semua orang pasti akan mengalami stress setidaknya sekali seumur hidupnya. Stress muncul bahkan sebelum seseorang lahir dan masih berada di dalam kandungan. Seorang bayi yang baru lahir pun bisa merasakan stress.

Namun stress itu bukanlah sesuatu yang buruk. Manusia memerlukan derajat stress yang cukup untuk bertahan hidup. Malahan ada teori yang mengatakan bahwa jika manusia tidak merasakan stress, manusia akan punah karena manusia tidak merasakan bahaya, tidak merasa takut, sehingga mengurangi kemampuan manusia untuk berpikir secara rasional. Seorang bayi mengembangkan kemampuannya untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan hal-hal yang ada di sekitarnya, terutama hal-hal yang secara potensi bersifat mengancam ataupun membahayakan. Misalnya, seorang anak kecil tidak tahu apa itu api. Namun setelah ia merasakan stress karena panas dari api, ia akan mempelajari bahwa ternyata api itu berbaha untuk dirinya sehingga Tanpa “stress”, anak-anak akan mendekati hal-hal yang berbahaya. Dalam hal ini, stress malah menguntungkan bagi kehidupan manusia  JIKA berada dalam taraf tertentu.

Lalu kapan saatnya Stress sudah tidak menguntungkan lagi untuk seseorang?

·        Sudah terlalu parah. Kadar stress yang terlalu berat akan membebani seseorang secara mental sehingga menganggu fungsi hidup lainnya.

·        Kemampuan seseorang untuk adaptasi tidak mampu menghadapi tingkat stress. Hal ini tergantung pada perkembangan masing-masing individu. Misalnya, seorang anak mungkin akan lebih sulit menghadapi stress kehilangan anggota keluarga dibandingkan dengan orang dewasa. Dua orang anak dengan usia yang sama mungkin akan bereaksi dengan penyebab stress yang sama namun dengan respon yang berbeda. Saat kemampuan seseorang tidak mampu menahan sumber stress, tingkat stress yang dirasakan akan berbeda. Pada beberapa kasus, sumber stress yang kecil bisa mengakibatkan respon stress yang berat pada seseorang karena perbedaan kemampuan mengelola stress.

·        Stress berlangsung terlalu lama. Stress yang kecil sekalipun jika berlangsung dalam waktu yang lama akan memberikan beban mental signifikan pada seseorang. Selain itu, stress juga diketahui mengubah kondisi fisik seseorang

·        Mulai mempengaruhi kesehatan. Psikosomatis adalah sebuah fenomena dimana kondisi psikis mempengaruhi kondisi psikologis. Misalnya, orang yang cemas mungkin akan mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar, asam lambung naik, bibir kering, pusing, dan lain-lain. Seseorang yang mengalami stress berat secara tiba-tiba mungkin akan demam. Jika kondisi stress berlangsung lama, gejala fisik juka akan terus berlanjut sehingga membuka celah untuk munculnya penyakit.

·        Diri sendiri sudah tidak bisa menghentikan stress. Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk mengatasi stress. Namun masih dalam taraf wajar saat seseorang mengalami stress yang berat dan ia tidak mampu untuk mengatasinya sendiri. Seorang ibu yang baru kehilangan anaknya mungkin memerlukan kehadiran suami dan teman-temannya untuk menghadapi rasa kehilangan. Seorang anak remaja yang mengalami sakit, mungkin memerlukan keberadaan orangtua untuk menghibur. Kadangkala, seseorang bisa menghadapi stress sendiri, kadangkala, seseorang memerlukan kehadiran orang lain untuk membantu meringankan dampak negatif dari stress.

 

TIPE-TIPE STRESS

1.      Positive Stress

·        Biasanya muncul karena kejadian yang relatif singkat dan secara natural, stress yang dirasakan juga singkat dengan taraf yang sangat ringan.

·        Perubahan psikologis yang diakibatkan oleh penyebab stress bersifat sementara, diman jika penyebab stress sudah menghilang, stress biasanya akan menghilang juga.

·        Misalnya : Pada anak kecil, stress karena bertemu orang baru. Mungkin anak akan merasa takut sejenak, namun jika orang tersebut sudah menghilang, anak tidak akan merasakan stress. Ataupun jika orang tersebut ternyata baik, anak akan menjadi tidak takut terhadap dengan orang tersebut. Stress karena harus disuntik jarum. Stress berhubungan dengan rasa sakit yang dirasakan karena pengalaman tersebut. Namun pada beberapa anak, stress ini akan terjadi lagi di kemudian hari jika ada stimulus. Pada orang dewasa, stress positive seperti terjatuh, terluka sangat mudah untuk dihadapi. Stress positif lainnya seperti stress karena pekerjaan yang belum selesai, stress karena ada hal tidak terduga yang sedang ditangani. Saat hal tersebut sudah berlalu,biasanya stress juga akan berkurang atau malah menghilang sama sekali.

·        Biasanya tidak bertahan lama, antara penyelesaiannya mudah, hilang sendiri, atau stress menghilang jika kondisi yang membuat stress berhenti.

·        Pada beberapa kasus, stress ini akan muncul kembali HANYA pada saat sumber stress ada. Namun pada beberapa individu, positive stress bisa menjadi stress jangka panjang. Terutama jika individu tidak memiliki kemampuan mengelola emosi dan menghadapi stress, namun kerentanan individu itu sendiri.

2.      Tolerable Stress

·        Sesuai namanya, stress ini berat namun masih bisa ditoleransi dan mungkin memerlukan effort tertentu dari penderitanya agar terselesaikan.

·        Pengalaman yang merupakan sumber stress masih bisa dihadapi, namun secara taraf termasuk lebih berat.

·        Jangka waktu lebih panjang dari positve stress namun masih relatif singkat.  

·        Misalnya : Seseorang yang mengalami kecelakaan mungkin akan merasakan takut, cemas, namun setelah beberapa saat, perasaan ini akan menurun dengan sendirinya. Jika kecelakaan ini membuat efek lain (seperti : pidana, patah tulang, harus bayar perbaikan motor), mungkin stress yang dirasakan merupakan dampak dari kejadian tersebut, namun tidak langsung berkorelasi dengan kejadian. Stress karena kecelakaan mungkin sudah menghilang, namun stress dari dampak kecelakaan mungkin masih berlangsung. Seorang remaja yang ditolak pada saat menyatakan cinta akan perlahan-lahan pulih dan mencari cinta lain di masa depan. Individu yang anggota keluarga meninggal akan sedih secara intens, namunbeberapa tahun ke depan, rasa sedihnya tidak akan seberat hari ini. Secara taraf, sumber stress tolerable ini lebih berat dan memerlukan waktu lebih lama untuk dihadapi.

·        Kadangkala bisa diselesaikan sendiri oleh individu, namun kadangkala kehadiran orang lain membantu.

·        Jika tolerable stress bisa dihadapi, tentu saja akan berkurang. Namun sebagai gantinya, jika individu tidak memiliki stress management yang baik, tidak menunjukkan effort untuk menyelesaikannya, ataupun mindset yang salah terhadap stress, berpotensi menjadi stress jangka panjang. Misalnya : Si orang yang kecelakaan menumbuhkan mindset bahwa semua kendaraan berbahaya sehingga ia tidak mau naik kendaraan sama sekali. Hal ini akan menimbulkan stress baru serta memperparah stress saat ini. Jika remaja yang ditolak cintanya dan merasa putus asa tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya menjadi lebih bersemangat, ia akan terus-menerus tenggelam dalam perasaan negatif hingga hitungan tahun.

·        Dalam hal ini, sumber stress yang tadinya bisa ditoleransi, jika tidak ditangani secara positif bisa menjadi toxic stress.

 

3.      Toxic Stress

·        Bobot sumber stress jauh lebih berat, seringkali mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

·        Muncul karena pengalaman buruk yang terjadi dalam jangka waktu lama ataupun muncul sekaligus dalam seketika. Namun stress yang diakibatkan dari pengalaman ini bertahan dalam jangka waktu yang lama.

·        Pada kasus dimana sumber stress terjadi seketika, misalnya bencana alam, kecelakaan fatal, perceraian orangtua, dan lain-lain, stress yang diakibatkan oleh satu kejadian ini bisa berlangsung lama. Adangkala stress yang tadinya secara normalnya harusnya bisa ditoleransi, namun karena dibiarkan semakin parah akhirnya menjadi toxic.

·        Pada kasus dimana sumber stress terjadi dalam waktu lama, stress muncul karena kondisi masalah yang tidak selesai-selesai. Misalnya : child abuse, bullying, neglect, maltreatment, penyakit kronis, hubungan orangtua yang tidak harmonis, dan lain-lain.

·        Sumber stress yang kecil sekalipun, jika individu tidak memiliki kemampuan ataupun niat untuk menghadapi, bisa menjadi toxic stress walaupun secara logika masalah yang menjadi sumber stress mungkin sederhana. Misalnya (seorang anak yang karena kehilangan sebuah pensil kesayangan di sekolah menjadi tidak mau ke sekolah, marah pada teman dan guru, serta menolak untuk makan).

·        Toxic stress memiliki kecenderungan merujuk ke gangguan mental ataupun mengundang stress lainnya. Selain itu memiliki resiko untuk memunculkan gangguan kesehatan.

·        Umumnya seorang anak tidak akan mampu mengatasi hal ini sendiri sehingga ada perubahan permanen dalam perkembangan otak.

·        Bisa diringankan, namun cenderung memerlukan waktu yang lama juga, dan dengan bantuan orang lain.

SUMBER STRESS

1.      INTERNAL

·        Stress muncul sebagai akibat dari pilihan atau perilaku yang dimunculkan sendiri ataupun kesalahan yang dilakukan sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Misalnya, anak kecil yang merasa sedih karena ia tersandung dan menjatuhkan mainan kesayangannya sehingga rusak, Seorang yang mengebut sehingga kecelakaan dan harus opname hingga berbulan-bulan menahan sakit, Seorang remaja yang memilih untuk tidak ikut teman-temannya pergi jalan-jalan namun akhirnya dirudung oleh penyesalan, seorang ibu yang terus-terus merasa cemas karena ia menargetkan bagaimana anaknya harus berprestasi di sekolah.

·        Pilihan kegiatan yang stressful. Misalnya, mengikuti perlombaan dengan tuntutan yang tinggi, bermain game yang memiliki resiko kalah, melakukan hal-hal yang memiliki potensi mencelakakan diri sendiri seperti menyontek, melompat dari tempat tinggi, bermain api, dll.

·        Persepsi atau pola pikir yang salah. Misalnya : Seorang anak menolak pemberian temannya. Temannya langsung merasa anak tersebut tidak suka padanya sehingga timbul rasa sedih.

·        Seringkali diri sendiri punya pilihan untuk tidak melakukan sumber hal yang membuat stress tersebut dan diri sendiri yang memiliki kemungkinan paling besar untuk menyelesaikan stress. Beberapa stress internal bisa dihindari jika memiliki kemampuan mengelola perilaku atau emosi yang baik.

2.     EKSTERNAL

·        Ketentuan dari orang lain atau malah Kesalahan orang lain yang menimbulkan masalah sehingga akhirnya menjadi sumber stress. Misalnya : rekan kerja yang tidak sengaja menumpahkan kopi ke laptop sehingga data pekerjaan hilang. Teman yang bermain dan menyenggol botol minum sehingga pecah. Tuntutan dari orangtua yang terlalu besar pada anak sehingga membuat anak tertekan. Aturan tempat tinggal dorm yang terlalu mengekang sementara mahasiswa diwajibkan untuk tinggal di dorm tersebut jika mau lulus. Perkataan negatif dari orang lain.

·        Kejadian tak terduga yang cenderung berada di luar kendali individu seperti bencana alam, macet, kecelakaan, perubahan jadwal penerbangan. Individu tidak memiliki andil apapun atau memiliki peran minimal dalam munculnya sumber stress, namun dampaknya mempengaruhi secara langsung ke individu.

·        Pada beberapa situasi, tidak ada pilihan selain menghadapi sumber stress.

ABCDE MODEL Untuk membantu menghadapi stress

        A = Awal à Kejadian yang menyebabkan stress.

        B = Behavior à Reaksimu biasanya seperti apa. Emosi yang kamu rasakan, pikiran yang terlintas, perilaku yang muncul sebagai respon dari kejadian yang membuat stress.

        C = Consequences à Konsekuensi yang muncul karena B terjadi.

        D = Down Time à Hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk menenangkan diri di tengah stress.

        E = Ending à Pikiran atau Perasaan atau perilaku yang muncul jika D berhasil dilakukan.

 

DAFTAR PUSTAKA :

·            Emotional Intelligence Activities for Pre-Teens Ages 11-12

·            Emotional Intelligence Activities for Pre-Teens Ages 13 – 18

·            Tompson, R. A. (2003). Counseling Techniques (2nd ed.). Brunner-Routledge : New York.

·            Santrock, J. W. (2007). Adolescence (11 ed.). McGraw-Hill Companies : United States of America.

·            Types of Stress : Positive, Tolerable, Toxic. https://center.uoregon.edu

Comments

Popular posts from this blog

Stress Reduction Tips

Stress Reduction Tips

Expressing Negative Emotions