Menyembuhkan Luka Hubungan Toxic
Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog
Manusia adalah makhluk sosial. Dan di dalam hubungan sosial ada hubungan romantis dengan orang-orang yang memiliki potensi menjadi paangan hidup. Tapi manusia tidak sempurna dan kadangkala kita bisa menemukan diri kita berada di dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Bahkan sebuah hubungan yang destruktif dan memiliki potensi menimbulkan trauma.
Jika ada terjadi trauma dalam hubungan dengan
pasangan umumnya, ada mistreatment, baik secara emosional maupun fisik. Mulai
dari kekerasan verbal, fisik, maupun seksual, hingga bullying emosional dan perilaku-perilaku manipulatif yang dilakukan
oleh pasangan yang membuat harga diri seseorang menjadi rusak. Seringkali
setelah keluar dari hubungan seperti ini, akan membekas berbagai macam luka
yang akhirnya muncul dalam respon emosional maupun perilaku terhadap orang lain
di masa depan.
Menyembuhkan luka-luka ini tidak mudah, namun jika kita mengharapkan diri kita bisa memiliki hubungan yang sehat di masa depan, kita harus berusaha sebisa mungkin meminimalisir efek dari hubungan sebelumnya yang menyakitkan.
1. Sadari
bahwa dirimu layak mendapatkan hubungan yang sehat.
Salah satu hal
yang sulit dilakukan adalah membuat diri sendiri yakin bahwa dirimu layak mendapatkan
hubungan yang baik dan hubungan toxic sebelumnya adalah sesuatu yang tidak
normal. Kalau kita percaya kita layak diperlakukan seperti itu, kita cenderung
menarik pasangan yang akan memperlakukan kita dengan buruk. You are not your
relationship. Walau mungkin ada kesalahanmu maupun kesalahan pasanganmu dalam hubungan yang sudah lewat, tidak ada gunanya diperdebatkan. Kalaupun kamu merasa kamu melakukan kesalahan, bukan berarti kamu tidak layak mendapatkan pasangan yang baik dan tidak layah memiliki hubungan romantis yang baik dengan orang lain. Tentu saja, instropeksi diperlukan dalam hal ini.
2. Terima
jika hubungan tersebut adalah toxic
Bukan karena
kamu melakukan kesalahan makanya pasanganmu melakukan itu ke dirimu, bukan
karena kalian sedang ada masalah, bukan karena faktor ketiga keempat namun
secara nature nya, hubunganmu adalah toxic dan menjauhkan diri dari hubungan
itu adalah keputusan yang tepat. Proses ini memang tidak selalu lancar dan
tidak akan mudah. Kadangkala bukan karena salah orang-orang di dalamnya, namun karena ada kombinasi-kombinasi yang tidak tepat antara aspek kepribadian masing-masing yang menimbulkan konflik. Ada bagian-bagian di dalam diri kita yang akan berusaha untuk "membenarkan" hubungan tersebut secara logika, mencari alasan untuk mempertahankan hubungan tersebut karena masih ada satu atau dua hal positif sementara mencoba untuk mengabaikan ribuan hal negatif. Pada akhirnya, bagaimana arah hidup kita dipengaruhi oleh hubungan tersebut adalah yang penting. Jika sebuah hubungan membawa hidup kita menjadi lebih negatif, kita perlu menerima bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
3. Peka
terhadap emosimu
Seringkali luka
setelah mengakhiri hubungan yang kurang baik menimbulkan reaksi emosi yang intens.
Kamu perlu peka terhadap perubahan emosimu sendiri supaya tidak menjadi
berlarut. Peka terhadap apa yang membuat emosi intens tersebut muncul, hindari
apa yang bisa dihindari, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, jika tidak bisa
dihindari dan tidak bisa diperbaiki, jadikan pelajaran untuk antisipasi
kesempatan selanjutnya. Manusia terbatas, dan kadangkala kita hanya bisa mati-matian berusaha mengambil pelajaran dari kejadian paling menyakitkan sekalipun.
4. Memaafkan
Jika kita ingin menuntut pasangan kita untuk meminta maaf atau menebus kesalahan, kira-kira kita harus menunggu berapa lama? Mungkin suatu hari nanti kalau dia sudah bertobat. Namun memang salah satu hal
yang menyakitkan dari berakhirnya hubungan toxic adalah seringkali tidak ada
“closure”. Cerita berakhir di puncak konflik tanpa ada ending sehingga
menggantung. Forgiveness is not something someone can give you, it is something that you must choose for yourself. Pasangan yang toxic kemungkinan tidak akan pernah minta maaf. Kita
hanya bisa berusaha sekuat tenaga fokus ke diri sendiri dan fokus pada keinginan kita untuk berubah dan
bertumbuh. Memaafkan seseorang bukan berarti melupakan, namun berarti membatalkan semua pengaruh negatif yang pernah mereka lakukan atau berikan dalam hidupmu. Ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis
melainkan pilihan yang harus kita ambil demi diri kita sendiri.
5. Isi
kekosongan dengan hal-hal positif
Marah, kecewa, sedih pasti ada, kita semua manusia. Tidak realistis meminta seseorang untuk langsung melupakan kesakitan setelah sumbernya menghilang karena bagaimanapun juga, pasti akan ada yang tersisa dan proses penyembuhannya tidak instant. Salah satu cara adalah mengubah fokus kita dan mendistraksi diri kita dan menggunakan waktu yang selama ini dipakai untuk hubungan yang buruk tersebut untuk mengerjakan hal-hal yang lebih positif, bertemu dengan orang-orang yang suportif, dan melakukan hal-hal yang berguna untuk diri kita sendiri.
6. Temukan kembali diri kita
Salah satu hal yang paling sulit adalah untuk mengembalikan diri kita menjadi siapa kita sebelum kita mengalami hubungan yang menyakitkan. Mungkin sebelumnya kita mudah percaya orang, namun setelah melewati hubungan dengan pasangan, kita menjadi mudah curiga. Mungkin tadinya kita adalah orang yang tegas, namun kita menjadi submisif. Menemukan jati diri kita di luar apa yang menjadi efek hubungan toxic akan membantu kita untuk memisahkan pengalaman kita sebelumnya dengan yang di masa depan. Seringkali hidup kita jadinya berfokus memperbaiki atau mempertahankan hubungan yang tidak sehat namun saat kita memutuskan untuk let go, kita juga memutuskan untuk mengembalikan fokus ke diri sendiri. Bukan berarti kita egois. Tapi kita memiliki cukup kesadaran untuk menilai bahwa diri kita lebih penting untuk dijaga daripada sebuah hubungan yang tidak membawa kita menjadi lebih baik. Mungkin saat hubungan toxic sudah selesai, kita bisa menemukan kembali hal-hal yang selama ini kita abaikan.
You may feel ashamed because what you went through
But be proud, because you survived
And be proud because you choose to continue despite of the shame
Comments
Post a Comment