Anak terbuka di Rumah, namun pendiam di luar?
Oleh : Ariyanto Yanwar, M.Psi., Psikolog
Jika
ada perbedaan dengan perilaku anak di lingkungan yang satu dan lingkungan yang
lain, bisa jadi disebabkan secara langsung karena perbedaan lingkungan itu
sendiri. Anak dalam segala keunikannya masing-masing, sejak balita sudah
memiliki kemampuan untuk mengobservasi dan menilai lingkungannya. Anak bisa
menilai apakah perilakunya aman untuk dikeluarkan dalam lingkungan atau tidak
aman dan hal ini dinilai anak melalui respon yang ditunjukkan dalam lingkungan.
Jika lingkungan merespon dengan positif, anak akan merasa perilakunya benar
dilakukan walaupun mungkin tidak. Sementara jika lingkungan merespon secara
negatif, anak akan merasa perilakunya tidak boleh dilakukan. Hal ini biasanya
masih bersifat kaku antara boleh atau tidak boleh namun seiring anak bertumbuh
secara kognitif, ia akan mempelajari bahwa perilaku baikpun ada waktu dan
tempat yang sesuai, dan tidak semua perilaku yang dilarang itu tidak boleh sama
sekali, namun ada waktunya. Anak bisa menilai apakah sebuah perilaku
menguntungkan atau merugikan untuk dirinya sendiri berdasarkan respon apa yang
ia dapatkan dari lingkungan. Contoh paling simple, dimarahi itu rasanya tidak
enak sementara dipuji dan dielus itu menyenangkan.
Salah
satu faktor utama perbedaan perilaku anak berbeda di lingkungan yang berbeda
adalah karena respon lingkungan berbeda. Bisa jadi lingkungan rumah merespon
dengan positif saat anak mengeluarkan pertanyaan atau pernyataan sehingga anak
merasa aman untuk bertanya dan menjadi dirinya sendiri. Mungkin saat anak
bertanya, anggota keluarga tersenyum dan memberikan jawaban, memberikan pujian,
mengapresiasi pertanyaannya, memberikan kontak fisik yang menyenangkan, dan
lain-lain. Jika seorang anak ada di lingkungan seperti itu, tentu saja
melakukan sebuah perilaku menjadi hal yang menyenangkan karena ia mendapatkan
banyak reward. Sementara, mungkin lingkungan sekolah tidak terlalu menyediakan
atmosfer seperti ini. Mungkin saat anak bertanya, ia tidak langsung mendapatkan
jawaban dari guru, mungkin saat anak bertanya ia tidak didengarkan, mungkin
anak-anak lain menertawakan atau memberikan respon tidak menyenangkan, ataupun
dikarenakan adanya teguran, ejekan, atau respon negatif lainnya.
Di
luar itu, kita juga harus mempertimbangkan karakter anak sendiri. Ada anak yang
memang mudah terbuka dan mudah akrab dengan siapa saja sementara ada anak yang
mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk terbuka. Hal ini merupakan hal yang
wajar, karena dalam lingkungan yang asing, anak akan cenderung menjadi lebih
berhati-hati dan mungkin beberapa anak merasa cemas. Namun ada kalanya jika
anak memperlihatkan perilaku melakukan sesuatu, namun dengan gerak lambat dan
kontak mata yang banyak, sebenarnya ia sedang mencari tahu reaksi dari
lingkungan akan menjadi seperti apa. Dia ragu melakukan sesuatu namun ia
mencoba untuk melakukannya sambil mengawasi reaksi apa yang akan ditunjukkan
oleh lingkungan. Karena itu dalam hal ini, penting juga untuk kita orang dewasa
membaca gerak gerik anak.
Namun
perlu diperhatikan bahwa perlu dilakukan banyak konfirmasi dengan berbagai
pihak untuk mengetahui dengan pasti penyebab terjadinya hal ini. Perlu diingat
juga bahwa kadangkala kondisi emosional anak yang tidak berhubungan dengan
perilaku juga bisa mempengaruhi muncul/hilangnya perilaku, misalnya anak dengan
awareness yang tinggi cenderung lebih berhati-hati dalam lingkungan baru.
Awareness yang tinggi juga kadangkala bisa berubah menjadi kecemasan. Anak-anak
dengan pola insecure attachments juga kemungkinan akan menjadi lebih sulit
terbuka di lingkungan asing, bukan karena faktor lingkungannya namun karena
ketidakadaan figur-figur attachment-nya untuk membuatnya merasa aman. Mungkin
juga hal ini dikarenakan adanya pengalaman tidak enak dalam sebuah lingkungan
yang asing yang membuat anak melakukan generalisasi bahwa semua lingkungan
asing sama dengan tidak enak.
Perlu
diingat juga, reaksi cemas atau khawatir pada beberapa anak dalam lingkungan
yang membuatnya tidak nyaman itu adalah hal yang ajar. Wajar juga ada anak-anak
yang lebih mudah warm-up dengan orang lain karena anak-anak memiliki temperamen
dan karakteristiknya masing-masing. Bahkan kita orang dewasa saja kesulitan
untuk selalu menjadi diri sendiri apalagi di lingkungan yang belum familiar. Jadi,
tidak adil untuk menuntut anak langsung harus bisa beradaptasi di lingkungan
yang dia belum tahu aman atau tidak untuk dirinya. Sebagai orang dewasa, tugas
kita adalah menciptakan lingkungan yang menjamin keamanan anak dan memberikan
atmosfer penerimaan yang baik agar anak yang tidak mudah terbuka pun
mendapatkan perasaan bahwa ia boleh terbuka. Walau ini tidak menjamin anak akan
langsung bersikap terbuka, setidaknya jika anak memutuskan untuk terbuka, ia
terbuka dengan yakin bahwa respon dari lingkungan tidak akan menyakitinya.
Comments
Post a Comment