The Foolish Person
Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati
dari bibirnya. Mengerti jalannya sendiri adalah
hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh
kebodohannya. Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur
saling menunjukkan kebaikan.
Mazmur 53:2
Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak
ada Allah!' Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.
Semua orang pasti akan merasa tersinggung
dan marah besar jika mereka dikata-katai oleh orang lain dengan sebutan orang
bodoh, apalagi disebut orang bebal. Dalam teks aslinya kata bebal
diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati
Tuhan. Orang bebal dapat diartikan pula orang yang sukar sekali untuk
mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian
dan pengajaran. Nasehat apa pun akan masuk
telinga kiri dan keluar telinga kanan atau sebaliknya. Tak ada kata-kata yang
tinggal dan bisa mengarahkannya untuk berubah menjadi orang yang benar dan taat
terutama kepada Tuhan.
Orang bebal memang sering disamakan dengan orang bodoh.
Kebodohan terbesar dari orang bebal adaah: ia berpikir dirinya pandai, bahkan
ketika seorang bijaksana bicara dengan orang bebal, maka ada dua orang bebal
yang sedang berbicara. Artinya orang yang bijak tidak ada untungnya untuk
bercakap-cakap dengan orang bebal apalagi berdebat dengannya. Yang lebih buruk
dari orang bebal adalah kesombongannya. Ia terlalu sombong untuk mendengarkan
orang lain bahkan teguran atas dosanya, karena ia selalu merasa dan berpikir
bahwa dirinyalah yang benar. Ia adalah orang yang sombong dengan kebodohannya,
dan dalam kebodohannya itu, ia merasa diri pandai. Sungguh sangat menyedihkan
orang yang seperti itu.
Salah satu contoh anak bebal adalah, anak yang suka
memotong pengajaran gurunya saat menerangkan mata pelajaran. Setiap kali guru
menerangkan, maka si anak tadi acapkali memotong pembicaraan gurunya. Anak
seperti ini akan menjadi bibit atau calon orang yang bebal yang tidak
menghargai orang lain saat berbicara.
Anak seperti ini, jika tidak secepat mungkin diubahkan
atau disadarkan, maka kelak ketika ia besar benih kebebalan yang sudah tertanam
di otaknya akan tumbuh subur dan berkembang menjadi pembangkang, merasa diri
paling benar, tak pernah mau mendengar nasehat teman atau orang yang lebih tua.
Ayat di atas mengingatkan kita untuk tidak memelihara
sikap degil, sikap mau menang sendiri dan sikap merendahkan orang lain. Ketika
hari ini kita merendahkan orang lain, kita tidak tahu dalam waktu tertentu kita
yang akan direndahkan orang lain juga. Belajar menghargai diri sendiri dan
menghargai orang lain adalah dasar utama dalam membentuk karakter kita menurut
firman Allah. Dalam menjalani hidup ini kita selalu
dihadapan pada pilihan-pilihan. Ketika kita membuat pilihan yang benar
berarti kita tahu mana yang harus kita lakukan dan mana yang tidak seharusnya
kita perbuat. Kalau kita sudah tahu bahwa hal itu salah, berdampak buruk,
merugikan dan bertentangan dengan firman Tuhan, tapi masih saja kita perbuat,
inilah yang disebut kebodohan atau tindakan bodoh karena kita telah salah
melangkah. Dan jika kita tidak segera menyadarinya dan terus saja
melakukan kebodohan, kita ini disebut sebagai orang yang bebal,
sebab "...hati orang bebal menyeru-nyerukan kebodohan."
(Amsal 12:23).
Firman Tuhan tak pernah berhenti
mengingatkan kita supaya kita tidak berlaku bodoh, karena Tuhan memiliki
rencana dan rancangan yang baik bagi anak-anakNya: masa depan yang penuh
harapan, bukan rancangan kecelakaan (baca Yeremia 29:11); hidup yang diberkati;
keberhasilan bukan kegagalan; rumah tangga yang bahagia, bukan berantakan;
tetapi seringkali rencana Tuhan kita gagalkan melalui perbuatan-perbuatan bodoh
kita.
"Buanglah kebodohan, maka kamu akan
hidup, dan ikutilah jalan pengertian." Amsal 9:6
"Janganlah kamu bodoh, tetapi
usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:17).
REFLEKSI :
Pernahkah kamu bertemu dengan orang
bebal?
Menurut kamu apakah yang bisa kamu
lakukan untuk membantu orang bebal tersebut?
Comments
Post a Comment