Anak Pemalu dan Cara Mengatasinya
Perlu ditekankan bahwa kemungkinan besar, anak pemalu bukan selalu diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang salah. Beberapa anak yang pemalu memang secara natural lebih ragu dan pencemas. Beberapa lagi merupakan perilaku yang dipelajari karena anak sedang berada lingkungan yang mungkin menekan ataupun terlalu intens buat anak. Hal ini bisa mempengaruhi karakter anak secara keseluruhan sehingga mempengaruhi saat ia bertemu dengan orang baru karena ada kecemasan yang muncul. Walaupun kita tidak bisa merubah temperamen natural anak, anak bisa diajarkan coping skills.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
1.
Menerima kecenderungan natural anak
Kita tidak sedang berusaha membuat
anak yang terlihat pendiam menjadi supel. Anak secara natural memiliki
temperamen pemalu biasanya memerlukan waktu lebih banyak untuk melunak,
orangtua yang tidak banyak menuntut, struktur, pengertian dan sensitivitas,
orangtua yang tenang dan tidak menggebu-gebu, dan disiplin yang tenang yang
tidak merusak harga diri mereka. Orangtualah yang harus menyesuaikan pola asuh
untuk membantu anak, bukan anak yang harus menyesuaikan diri mereka dengan pola
asuh orangtua.
2.
Kenali tanda-tanda
Melalui bahasa tubuh dan perilakunya,
kita bisa mengenali jika anak sudah mulai tegang atau takut. Memaksa anak untuk
“tidak usah malu” biasanya kurang efektif. Bantu anak untuk mengenali
tanda-tanda kecemasannya dan berikan cara-cara yang bisa dilakukan anak dan
orangtua dalam usaha untuk menenangkan anak. Misalnya ajarkan anak untuk
mengelus tangan atau dada mereka, menarik nafas, dan memberikan kata positif ke
diri sendiri. Dalam hal ini, tentu saja cara-cara ini tidak bisa secara ajaib
membuat anak menjadi pemberani sehingga harus ada kesabaran dari orangtua jika
anak belum berhasil.
3.
Kenali hal-hal yang menimbulkan kecemasan.
Walaupun anak memiliki temperamen
alami, kita perlu menandai jika ada hal-hal di dalam lingkungan yang membuat
anak menjadi cemas. Dalam hubungannya dengan bertemu orang baru, apakah
penampilan orang baru itu menakutkan buat anak? Apakah orang baru tersebut
melakukan sesuatu yang membuat anak takut seperti berbicara dengan suara keras,
berteriak, menyapa dengan attitude yang terlalu intens, sehingga anak menjadi
tidak nyaman.
4.
Dari sisi orangtua
Kadang ada ekspektasi orangtua yang
akhirnya menjadi sumber kecemasan anak. Hindari memaksa anak untuk berbicara di
depan umum, memaksa anak untuk langsung masuk ke dalam kelompok tanpa ada waktu
untuk warm-up, memaksa anak melakukan sesuatu yang demi kepentingan orangtua
namun bukan untuk anak, membandingkan kemampuan anak, atau perilaku
overprotective dimana orangtua “menyelamatkan” anak dari situasi sosial yang
tidak menyenangkan sehingga anak belajar untuk menjadi cemas saat menghadapi
situasi sosial tersebut namun tidak pernah belajar bagaimana cara
menghadapinya.
5.
Jangan melabeli anak
Walaupun kita tahu anak yang memiliki
temperamen seperti ini dikatakan pemalu, hindari untuk mengatakan hal ini
langsung di depan anak ataupun mengarahkan orang lain menggunakan label pemalu.
Gunakan kalimat seperti “kamu perlu lihat-lihat bentar yah, ga mau langsung
masuk?” untuk membuat anak mengerti bahwa orang dewasa memahami perasaannya dan
tidak sedah memaksanya.
6.
Jangan pernah memaksa
Orangtua “menyarankan” dan
“mendorong” secara halus namun jangan pernah memaksa anak untuk langsung
melakukan kalau dia belum siap, apalagi jika ia sudah meraung-raung. Ada banyak
cara untuk membuat anak tertarik pelan-pelan. Jika anda ingin mengajarkan anak
anda untuk sayang pada kucing, anda tidak akan langsung melemparkan seekor
kucing ke muka anak, namun anda mulai dari memperlihatkan kucing dari jarak
jauh, anda mencontohkan cara mengelus kucing, bertanya anak mau coba atau
tidak, lalu mengajak anak untuk mengulurkan tangan pelan-pelan. Memaksa anak
hanya akan membuat rasa cemas meledak karena disuruh melakukan tanpa persiapan
dan membuat anak menjadi semakin tidak mau. Ketidaksabaran orangtua hanya akan
menambah resiko trauma.
7.
Roleplay
Melakukan rekayasa situasi sosial
untuk melatih anak di rumah adalah cara yang positif untuk membantu anak
mengembangkan kemampuan sosialnya di lingkungan yang relatif aman. Dalam
role-play, anak diajarkan coping skills, positive self talk, ataupun hal-hal
lain yang berguna untuk menghadapi situasi sosial yang sesungguhnya.
Refferences :
Borba, M. (2009). The Big Book of
Parenting Solutions : 101 answers to your everyday challenges and wildest
worries. San Francisco : Jossey-Bass
Comments
Post a Comment