DEPRESI PADA REMAJA
Saat ini banyak
remaja seusia kalian yang seringkali mengeluarkan kata depresi dalam
percakapan. Banyak juga yang mengaku bahwa mereka mengalami depresi, terutama
pada masa-masa sulit seperti ujian ataupun saat mengalami masalah dengan teman.
Depresi sendiri dialami hampir setiap orang sehingga bisa dikategorikan sebagai
masalah yang umum.
Namun Depresi
bukanlah sebuah istilah yang digunakan secara gampang! Karena Depresi pada umumnya
masuk ke diagnosa gangguan mental yang berat dan hanya bisa digunakan jika
seseorang menunjukkan gejala-gejalanya. Penggunaan istilah “depresi” secara
berlebihan dan tidak pada tempatnya hanya akan membuat orang meremehkan
seriusnya gejala depresi dan otomatis meremehkan setiap orang yang menunjukkan
gejala tersebut. Karena itu, DIAGNOSA DEPRESI HANYA BOLEH DIBERIKAN OLEH
PROFESIONAL DALAM BIDANG PSIKOLOGI, bukanlah sebuah label yang bisa secara
gampang diberikan ke diri sendiri. Orang bisa menunjukkan GEJALA DEPRESI,
tapi belum tentu bisa didiagnosa dengan depresi.
Ciri-ciri gejala Depresi
yang perlu diketahui dan bedanya dengan gangguan lain:
1.
Mood yang jelek sepanjang hari,
hampir tiap hari, yang diobservasi oleh orang lain maupun diri sendiri. Mood
yang jelek ini persisten dan sulit untuk dinaikkan kembali. Seringkali menjadi
mudah marah atau mudah merasa terganggu. Jika kamu merasa mood jelek hanya
dalam beberapa situasi tidak mengenakkan saja, atau jika tidak ada sesuatu yang
terjadi kamu merasa fine saja, kamu tidak memiliki gejala depresi. Jika mood
jelek hanya muncul sebagai respon terhadap kejadian tidak enak, itu STRESS,
bukan depresi. Perlu diperhatikan juga bahwa perubahan hormon dalam masa
remaja juga bisa menyebabkan fluktuasi mood.
2.
Berkurangnya ketertarikan atau
kesenangan dalam semua kegiatan atau hampir semua kegiatan, sepanjang hari dan
hampir setiap hari. Biasanya minat pada kegiatan yang biasa senang dilakukan
juga berkurang. Jika minat pada satu hal berkurang sementara minat pada hal
lain masih ada, bisa jadi kamu JENUH, bukan depresi. Jika sesuatu yang kamu
sukai mulai terasa tidak enak, bisa jadi kamu BOSAN, bukan Depresi.
3.
Perubahan berat badan menurun
secara signifikan padahal tidak diet, atau kenaikan berat badan. Hal ini mungkin
terkait dengan penurunan dan kenaikan nafsu makan hampir setiap hari. Hati-hati,
dalam masa remaja, hal ini terkait perubahan hormon sehingga jika tidak
disertai dengan gejala lain, tidak bisa dikategorikan sebagai gejala depresi.
4.
Insomnia (sulit tidur) atau
Hypersomnia (ngantuk terus) hampir setiap hari. Bedakan dengan MALAS.
Insomnia maupun hypersomnia bukan karena pengobatan ataupun prosedur medis
lainnya. Harus disertai dengan gejala lain baru bisa dianggap gejala.
5.
Merasa gelisah secara fisik ataupun
lemas secara fisik hampir setiap hari. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh diri
sendiri namun juga berdasarkan observasi orang lain di sekitar. Jika hanya
muncul saat ada trigger seperti ujian atau kompetisi, bisa jadi ini KECEMASAN,
bukan depresi.
6.
Merasa lelah dan tak bertenaga
hampir setiap hari. Perhatikan konteks. Jika sedang sakit, ini wajar. Setelah
olahraga merasa capek, ini hal yang wajar. Namun perasaan lelah bisa muncul
sejak bangun hingga tidur kembali malamnya sehingga PERASAAN LELAH DAN TIDAK
BERTENAGA TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN AKTIVITAS.
7.
Rasa tidak berharga atau
perasaan bersalah yang berlebihan. Kembali, perhatikan konteks. Jika kamu baru
berbuat salah atau baru gagal melakukan sesuatu, ini adalah perasaan yang
wajar. Hanya bisa dikatakan gejala depresi jika ini muncul dalam frekuensi
yang sering, perasaan berlebihan, dan dalam jangka waktu panjang.
8.
Kemampuan berkurang dalam
berpikir atau membuat keputusan hampir setiap hari. Sulit konsentrasi dan
merasa ragu dalam memutuskan sesuatu karena ada emosi intens yang muncul setiap
kali ada di posisi yang mengharuskan. Kalau ini hanya muncul dalam belajar
saja, ini adalah MASALAH BELAJAR, bukan depresi.
9.
Pikiran berulang mengenai
kematian. Bukan takut mati. Namun membayangkan kematian diri sendiri, pikiran
yang merencanakan kematian diri sendiri dan bagaimana langkah-langkahnya secara
spesifik, hingga usaha nyata untuk melakukan bunuh diri. Melukai diri sendiri
adalah bagian dari gangguan lain yang juga menyertai gejala depresi. Semua
orang memikirkan kematian. Tapi merencanakan kematian, walaupun tidak
benar-benar akan dilakukan merupakan salah satu gejala depresi.
Sumber depresi bisa
dari berbagai macam sumber, mulai dari masalah gambar diri hingga pengaruh
lingkungan. Bahkan dari hal kecil yang sudah lama terjadi, misalanya kesulitan
mengendalikan emosi pada saat masih kecil yang tidak pernah dilatih sehingga
menjadi konflik saat ini. Setiap sumber memiliki ciri khas yang berbeda
sehingga penanganannya bisa berbeda. Pada remaja, gejala depresi umumnya
muncul karena isu gambar diri, terutama bentuk tubuh, hubungan dengan teman,
hubungan dengan orangtua, dan pencapaian akademik. Efek dari gejala-gejala
ini bisa muncul dalam bentuk perilaku. Perilaku yang muncul bisa berbeda
tergantung sumber depresi. Anak yang depresi karena masalah pertemanan akan
menunjukkan perilaku yang berbeda daripada anak yang depresi karena masalah
bentuk tubuh. Beberapa perilaku yang terlihat seperti menghindari keramaian,
menyendiri, berhenti bicara, mudah marah, menyerang secara afresif, perilaku
mencari perhatian secara berlebihan dan lain-lain.
Gejala maupun
diagnosa penuh depresi merupakan hal yang tidak boleh diremehkan karena kondisi
mental yang melemah dalam diri seseorang membuka pintu untuk masuknya gangguan
yang lain seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan emosi, dan
lain-lain sehingga jika tidak ditangani dengan baik, hanya akan semakin parah.
Comments
Post a Comment