Bullying


Bullying adalah sebuah siklus dimana satu pihak melakukan perilaku agresif yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Dalam Bullying, ada perilaku agresi yang dilakukan dalam bentuk verbal, fisik, sosial, dan yang merupakan kategori baru adalah cyber-bullying. Bullying berbeda dari perilaku agresi pada umumnya karena perilaku agresi hanya muncul satu kali atau dalam jangka waktu yang pendek. Namun Bullying memiliki aspek perilaku agresi yang sama hanya saja dilakukan secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lebih panjang, bisa bersifat harian, mingguan, bulanan, atau malah tahunan. Bullying menyebabkan kondisi emosional negatif yang berkepanjangan sehingga memiliki resiko merusak well-being individu. Bullying bisa terjadi di semua lingkungan sosial seperti sekolah, keluarga, tempat kerja, perkumpulan kelompok dan lain-lain.

 Olweus menyatakan bahwa dalam sebuah siklus Bullying ada 3 pihak yang terlibat yaitu Bully, Victim, dan Observer.
Seorang bully adalah pihak yang melakukan perilaku agresi yang berulang-ulang terhadap satu atau lebih dari satu orang korban dalam jangka waktu yang lama. Seorang victim adalah target atau korban yang dilakukan perilaku bullying. Seorang observer adalah seseorang yang melihat perilaku bullying dilakukan kepada orang lain, namun tidak mengambil peran untuk menghentikan maupun memperparah. Hal yang perlu dicatat dalam siklus ini adalah seringkali seorang bully adalah seorang victim. Artinya, bisa jadi ia melakukan perilaku bullying pada orang lain karena dirinya sendiri di-bully oleh orang lain. Misalnya, seorang anak dibully oleh anak yang lebih besar sehingga sebagai pelampiasan, ia melakukan bullying pada anak yang lebih kecil. Dalam hal ini, terlihat juga bahwa seorang victim bullying memiliki resiko untuk terdorong melakukan bullying juga pada orang lain sebagai kompensasi. Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa seorang observer yang tadinya tidak terlibat bullying, bisa menjadi bully, bisa juga menjadi victim.

MENGAPA BISA TERJADI BULLYING??
Dari gambaran sebelumnya, bisa terlihat bahwa sekali siklus bullying terjadi, yang akan muncul hanyalah pengalaman negatif untuk setiap pihak yang terlibat. Tentu saja untuk muncul sebuah siklus, biasanya pda umumnya dimulai dari pihak pelaku terlebih dahulu, yaitu bully. Untuk sebuah siklus terjadi, pasti ada pencetus, dan dalam hampir semua kasus, pelaku yang memulai (walaupun mungkin pelaku merupakan korban dalam siklus bullying di tempat lain).

Penyebab seseorang menjadi seorang bully
-          Seorang bully merupakan korban dari bullying yang telah dilakukan orang lain sebelumnya. Perilaku bully muncul sebagai kompensasi perasaan negatif karena pengalaman di-bully
-          Perasaan tidak mampu membalas ke bully sehingga melampiaskan kekesalan pada orang lain
-          Ada reward object dari perilaku bullying (uang, benda, makanan, admirasi dari orang lain, pujian, etc)
-          Memiliki fisik yang lebih besar atau kuat dibandingkan orang lain. Atau memiliki kelebihan yang bisa digunakan untuk menekan orang lain.
-          Kompensasi perasaan marah, lemah dan tak berdaya sehingga bullying muncul sebagai cara untuk mendapatkan rasa kuat, berkuasa, sehingga sedikit menutupi perasaan negatif yang dirasakan. Dalam hal ini, bullying memberikan reward perasaan positif untuk menutupi perasaan negatif.
-          Modelling, kasus dimana seorang observer melihat orang yang melakukan bullying pada orang lain berhasil mendapatkan reward sehingga ia mulai melakukan bullying tersebut agar mendapatkan reward juga
-          Anak pelaku bullying tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kekerasan dan tindakan kriminal.
-          Disiplin yang tidak baik dari pihak orangtua sehingga anak berlaku semaunya tanpa adanya rasa bersalah atau empati terhadap orang lain.
-          Kecenderungan Oppositional Defiant atau conduct disorder
-          Konformitas karena pergaulan yang buruk. Perilaku bullying bisa juga terjadi karena paksaan, dimana seseorang berstatus victim dan bully.

Penyebab seseorang menjadi victim atau target bullying
-          Karakteristik yang tidak disukai oleh bully ataupun karakteristik yang mengundang.
-          Pasif, tidak melawan, tidak mampu membela diri, pendiam
-          Memiliki perilaku aneh ataupun perilaku yang membuat orang lain menjauhi.
-          Karakteristik fisik dianggap lebih lemah daripada pihak bully.
-          Tidak memiliki teman yang bisa membela atau terlihat seringkali menyendiri.

Penyebab seseorang menjadi observer
-          Berada di lingkungan yang sama dengan lingkungan dimana siklus bullying terjadi
-          Tidak terlibat karena tidak peduli
-          Tidak terlibat karena takut akan ditarget

Siklus bullying memberikan emosi negatif yang berat pada ketiga pihak. Efek negatif yang dirasakan masing-masing juga akan berbeda-beda. Dalam siklus bullying, efek positif yang dirasakan (kebanyakan oleh pihak bully) bersifat sementara dan semu, umumnya hanya untuk kepuasan sementara. Namun pada kenyataannya, efek negatif yang muncul dalam jangka panjang banyak dan bisa berujung pada gangguan mental yang lain.

Efek pada Bully
-          Saat sedang melakukan, bully akan mendapatkan persepsi negatif dari lingkungan sehingga akan mempengaruhi hubungan sosialnya seperti dijauhi teman, dibenci, atau mungkin dia akan mengalami social punishment dan bullying sebagai bentuk pembalasan dari teman-temannya.
-          Label negatif dari lingkungan yang akan mempengaruhi bagaimana cara lingkungan mempersepsi dan memperlakukan dirinya.
-          Jika seorang bully juga adalah seorang victim dari siklus bullying lain, seorang bully kemungkinan memiliki rasa marah, sedih, dendam yang berkepanjangan, sehingga kesehatan emosionalnya mungkin tidak baik.
-          Rasa bersalah
-          Kecenderungan untuk melakukan tindak pidana di masa depan karena pemahaman moral yang kurang.
-          Depresi
-          Tergantung awal mula motivasi untuk melakukan tindakan bullying, kemungkinan ada gangguan mental yang berbeda-beda (misalnya kecemasan, paranoia, kemampuan untuk mengontrol amarah, masalah kepribadian, conduct disorder, dan lain-lain).

Efek pada victim
-          Rasa rendah diri, self-esteem dan self-image yang rusak,
-          Pesimis, paranoid, rasa rendah diri, Merasa tidak berharga
-          Victim mentality yang terbawa hingga dewasa
-          Rasa marah, kecewa, persepsi negatif pada lingkungan yang masih muncul walaupun sudah tidak ada di dalam lingkungan dimana siklus bullying terjadi ataupun sudah berlalu lama.
-          Dendam terhadap pihak yang melakukan bullying dan mungkin orang-orang yang melihat namun tidak menolong.
-          Depresi kepanjangan yang merambat ke aspek hidup lain.

Efek pada Observer
-          Rasa bersalah karena tidak menolong
-          Rasa takut karena jika menolong, ia yang akan menjadi korban selanjutnya.
-          Paranoid, takut untuk muncul secara sosial.
-          Gangguan emosional yang mengikuti rasa bersalah dan trauma emosional.

Refferences
Campfield, D. C. (2006). Cyber-Bullying and Victimization : Psychosocial Characteristics of Bullies, Victims, and Bully/Victims. (Disertasi program magister, University of Montana, 2006).
Dake, J. A., Price, J. H., & Telljohann, S. K. (2003). The nature and extent of bullying at school. Journal of School Health, 73(5), 173-180
Maliki, a. E., Asagwara, C. G., & Ibu, J. E. (2009). Bullying problems among school children. J Hum Ecol, 25(3), 209-213
Nelson, R. W. & Israel, A. C. (2006). Behavior disorders of childhood (6th Ed.). New Jersey : Pearson Education, Inc.
Pellegrini, A. D. & Blatchford, P. (2000). The child at school : Interaction with Peers and Teachers. Great Britain : Arnold.
Rivers, I., Noret, N., Poteat, V. P., & Ashurst, N. (2009). Observing bullying at school : the mental health implications of witness status. School Psychology Quarterly, 24(4), 211-223
Totura, C. M. W. (2003). Bullying and Victimization in Middle School: The Role of Individual Characteristics, Family Functioning, and School Contexts.






Comments

Popular posts from this blog

Stress Reduction Tips

Stress Reduction Tips

Expressing Negative Emotions