Menghadapi Toxic Parenting
Adalah suatu hal yang sangat
menyedihkan dan mengecewakan setiap kali ada anak yang merasa ia harus belajar
bagaimana menghadapi orangtuanya sendiri. Hal ini menunjukkan fakta bahwa ada
banyak anak yang merasa orangtua tidak menjalankan perannya sebagai orangtua
sebagaimana mestinya. Banyak juga sebenarnya anaknya yang toxic, namun dengan
mudah menuduh orangtua toxic karena orangtua tidak sesuai dengan harapannya
yang egois. Namun, kenyataannya adalah hal-hal seperti ini benar terjadi di
dunia nyata. Walau demikian, penting untuk terlebih dahulu kita memahami apa
itu sebenarnya Orangtua yang toxic.
Berikut adalah beberapa
karakteristik orangtua Toxic. Ingat, Orangtua
tidak perlu memiliki semua karakteristik di bawah ini untuk dikategorikan Toxic.
1. Fokus ke
diri sendiri dan memiliki kapasitas empati terbatas
Cenderung
mementingkan urusannya sendiri dan seringkali meminta anak untuk mengalah demi
kepentingannya. Menuntut anak untuk memahami dirinya namun tidak melakukan
sebaliknya.
2. Tidak
menunjukkan rasa hormat
Menunjukkan
perilaku merendahkan anak dan tidak menghargai anak. Kemungkinan besar
dilakukan juga ke orang lain selain anak.
3. Reaktif
secara emosional
Merespon
dengan cepat dan dengan emosi yang intens saat anak melakukan sesuatu yang
tidak sesuai dengan keinginannya. Mudah marah, mudah tersinggung, dan mudah
menyerang secara verbal maupun fisik.
4. Controlling
Bersikap
mengekang dan mengendalikan anak, umumnya sampai hal yang paling kecil
sekalipun seperti cara menulis, cara berjalan, cara mengerjakan tugas, tidak
membiarkan anak melakukan sesuatu secara mandiri.
5. Angry
Emosi yang
paling sering ia tunjukkan saat berbicara pada anak adalah marah.
6. Critical
Bersikap
kritis secara berlebihan. Mengkritik setiap langkah kaki anak, cara anak
berperilaku, cara anak duduk, cara anak menggosok gigi, sepertinya hal paling
kecil yang dilakukan anak pun selalu ada ruang untuk dikritik.
7. Manipulative
Memutar
balikkan fakta atau peraturan untuk mencapai keinginannya. Membohongi anak dan
mengingkari janji atau Menggunakan ancaman untuk membuat anak patuh.
8. Blaming
Jika anak
berbuat salah, orangtua akan terus menerus menyalahkan anak bahkan jika
kesalahannya sudah selesai. Jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai
rencana, orangtua cepat menyalahkan anak walaupun belum tentu salah anak.
9. Demanding
Orangtua
terlalu banyak menuntut anak harus melakukan sesuatu sesuai keinginan orangtua.
10. Embarrassing
Mempermalukan
anak baik secara publik maupun saat sedang disiplin pribadi.
11. Cruel
Melakukan hal-hal
yang kejam terhadap anak seperti menghukum secara fisik, maupun dengan sengaja
menyakiti anak.
12. Boundaryless
Tidak
memberikan anak privasi. Selalu ingin tahu setiap urusan anak.
13. Enmeshed
Mengandalkan
anak untuk segala hal, mengharapkan anak untuk membantu semua urusan orangtua,
menyuruh anak untuk memahami kemauan orangtua dan harus bisa mengerti kesulitan
yang sedang dialami orangtua.
14. Competetive
Menuntut
anak untuk selalu mencapai sesuatu, tidak boleh kalah dari orang lain,
membandingkan anak dengan anak lain, baik saudara maupun anak orang asing.
15. Interaksi
dengan mereka memicu/meninggalkan emosi negatif
Setiap kali
akan bertemu orangtua dan setiap kali selesai bertemu orangtua, kamu merasakan
emosi negatif.
ANAK TIDAK BISA MEMILIH ORANGTUA. Dan maksud kita di sini adalah
bukan untuk belajar cara membangkang pada orangtua yang kita nilai tidak sesuai
dengan ekspektasi kita. Orangtua juga adalah seorang anak, dan dari cara mereka
membesarkanmu, kamu sudah isa menebak bagaimana cara mereka dibesarkan.
Kemungkinan apa yang kamu rasakan saat ini adalah apa yang mereka rasakan
sewaktu mereka seusiamu. Kita harus
mengasihi orangtua kita, itu adalah sebuah hukum yang mutlak dalam setiap
budaya. Namun orangtua kita kadang tidak sempurna sehingga hal ini bisa
menjadi sesuatu yang sulit sekali. Namun ada cara-cara untuk kita beradaptasi
demi kesehatan mental kita sendiri.
Bagaimana caranya?
1.
Kuatkan
dirimu!
Saran
pertama ini sekilas saja sudah kedengaran tidak enak, namun inilah kenyataan
yang harus kita terima. Jika kita berada di tengah badai, kita tidak bisa
mengeluh meminta badainya berhenti. Kitalah yang mau tidak mau harus berusaha
sekuat tenaga untuk tidak tenggelam.
Banyak
Orangtua toxic akan seringkali melontarkan perkataan-perkataan negatif yang
membuatmu merasa rendah, kecil, bodoh, dan tidak berharga. Jangan sampai
terpengaruh dengan omongan mereka. Karena orangtua toxic hanya akan melihat
kejelekanmu saja dan hanya kamu yang bisa terus mengingatkan ke dirimu sendiri
bahwa kamu tidak 100% isinya hanya kejelekan saja. Yang bisa kamu lakukan
adalah dengan membangun KONSEP DIRIMU
sendiri hingga kuat diterjang hinaan seperti apapun. Kalau kamu mengenal kelemahan
dan kekuatanmu dengan jelas, hinaan dan kata-kata kejam dari orang lain akan
memiliki pengaruh yang kecil atau malah tidak ada pengaruh sama sekali.
2.
You are
you!!
Walaupun
kita lahir dari orangtua dan membawa banyak karakteristik yang mirip dengan
orangtua, pada akhirnya kita adalah diri
kita sendiri, bukan cerminan atau fotocopy dari orang yang membesarkan kita.
Kita punya cara berpikir sendiri, kita punya identitas kita sendiri, dan kita
punya pilihan dalam hidup kita sendiri. Walaupun saat ini kita masih terikat
dengan keputusan keluarga, akan ada waktunya dimana pengaruh keluarga hilang
dan kita sudah siap untuk menjadi diri sendiri daripada menjadi hilang arah
karena selama ini diri kita dikendalikan oleh orang lain.
3.
Temukan
karakteristik dari dirimu yang biasanya diserang
Ada
karakteristik tertentu yang seringkali menjadi sasaran orangtuamu saat mereka
menyerangmu. Cari dan perbaiki
karakteristik tersebut!!! Sebisa mungkin, kurangi target pada dirimu yang
bisa mereka incar sehingga secara otomatis, kesempatan mereka untuk mencecarmu
akan berkurang. Ini merupakan salah satu usaha terbaik yang bisa kamu lakukan
untuk menghadapi orangtua yang sulit. Dengan cara ini, kamu bisa memperbaiki
dirimu menjadi lebih baik dan juga memberikan ruang untuk orangtuamu
mengevaluasi ulang penilaian mereka padamu.
Jika
orangtuamu memperlakukanmu buruk bukan karena kesalahanmu, INGATLAH BAHWA
KADANGKALA ORANG LAIN
4.
Belajar
untuk hidup mandiri Self sufficient and independent
Belajar hidup mandiri, terutama secara emosional akan
menjadi langkah pertama untuk menjaga jarak dari orangtua yang sulit
dan lepas dari pola ketergantunganmu terhadap mereka. Berhenti mencoba untuk
menyenangkan mereka dengan cara mengorbankan dirimu. Pada akhirnya, setelah
kamu beranjak dewasa, cari cara untuk menjauhkan diri secara finansial karena
banyak orangtua mengekang anak dengan alasan karena orangtua yang membayar
segala keperluan anak. Hal ini tentu
saja dengan melakukan penilaian terlebih dahulu, sehingga HANYA DILAKUKAN JIKA
MEMANG TIDAK ADA HARAPAN ORANGTUA AKAN BERUBAH. Kita tidak mencoba
mengutuki mereka atau tidak menganggap mereka sebagai orangtua. Namun, jika
orangtua bersikeras untuk memperlakukanmu dengan buruk, kamu hanya bisa melindungi
diri dan ini hanyalah salah satu cara terakhir.
Berikan
waktu dan tempat untuk dirimu sendiri. Jika orangtua tidak menghargai
boundaries, buatlah boundariesmu sendiri dengan cara memisahkan dirimu secara
fisik dari orangtua sesering mungkin dan temukan tempat untuk dirimu bisa
mengekspresikan dirimu dengan bebas tanpa takut dilabrak orangtua.
Carilah, bila bisa, orang-orang lain yang bisa
men-support mu secara positif selain orangtua. Mungkin
teman, guru, petinggi agama, atau orang-orang lain yang bisa menjadi panutanmu.
Siapapun yang bisa mengembalikan apa yang sudah dirusak oleh orangtuamu.
5.
Menjadi
Agen Perubahan dalam keluarga
Kadangkala,
anak menjadi agen perubahan dalam keluarga. Dimana dalam keluarga yang tidak
efektif, perubahan dalam diri anak yang positif malah menjadi inspirasi untuk
anggota keluarga lain untuk menjadi positif juga. Dalam hal ini, anak fokus untuk memperbaiki dan meengembangkan dirinya
sendiri sambil menghalau energi negatif dari keluarga. Kadang, dalam beberapa
kasus, perubahan positif ini menjadi sesuatu yang mengubah persepsi anggota
keluarga lain dan mendorong mereka untuk mengevaluasi diri menjadi lebih baik
juga. Dalam skenario sebaliknya pun, walaupun keluarga tidak berubah,
setidaknya anak menjadi lebih baik sehingga bisa bertahan jika suatu saat tidak
ada keluarga.
HAL YANG PERLU DIINGAT ADALAH ANAK YANG MEMILIKI ORANGTUA TOXIC,
SEBALIKNYA AKAN CENDERUNG MENJADI TOXIC JUGA.
Dalam jangka panjang, anak akan tumbuh menjadi orangtua yang toxic juga
JIKA anak tidak memutuskan pola interaksi negatif yang diterima dari orangtua!
ANAK TIDAK HARUS MENJADI KORBAN DALAM KELUARGA, NAMUN MENJADI SEBUAH PERUBAHAN.
SETIDAKNYA JIKA KAMU TIDAK BISA MENGUBAH ORANGTUAMU, KAMU BISA MENJAMIN BAHWA
ANAKMU KELAK TIDAK AKAN MENJADI SEPERTI DIRIMU SAAT INI DAN KAMU AKAN MENJADI
ORANGTUA YANG LEBIH BAIK. Intinya, kita tetap mencari cara beradaptasi dengan
orangtua tanpa menyakiti harga diri mereka. Kita tidak sedang ingin menyerang
balik mereka. Kita bukan sedang ingin menyalahkan mereka atas penderitaan kita
hari ini. Kita mau mencari bagaimana cara untuk setidaknya memperbaiki kondisi
sehingga semua pihak bisa menjadi lebih baik.
Jika kamu membaca artikel ini dan
mengerjakan tugas ini hanya untuk membahas kejelekan orangtuamu sendiri saja
tanpa menawarkan perubahan atau solusi, maaf saja, bisa jadi bukan orangtuamu
yang toxic tapi kamu adalah anak yang toxic. Atau mungkin baik kamu maupun
orangtuamu saat ini sudah sama-sama toxic. Terlepas dari siapa yang duluan
toxic, pertanyaannya adalah siapa yang mau inisiatif menghentikan pola toxic
yang saat ini terjadi di keluarga. Memang secara idealnya, orangtua harusnya
lebih dewasa. Namun jika pada kasus dimana anak ingin menyetarakan persepsi
dengan orangtua, kadang harus anak juga yang mulai bergerak terlebih dahulu.
Cari bantuan jika diperlukan. Minta tolong orang lain saat merasa sudah tidak
mampu menghadapi sendiri juga akan membantu.
WHEN PARENTS FAIL, CHILDREN CAN BE THE AGENT OF CHANGE IN THE FAMILY
Comments
Post a Comment