MENYIKAPI KRITIK
Apa itu kritikan?
Kritikan adalah pendapat yang
disampaikan ke kita yang tujuannya untuk mempertanyakan atau menunjukkan
kelemahan atau kekurangan yang kita miliki. Kritikan sendiri bisa merupakan
kenyataan ataupun karena persepsi subjektif orang.
Kritikan memiliki konotasi negatif
dan kebanyakan dari kita menghindari dikritik. Respon utama kebanyakan orang
saat dikritik adalah untuk membantah kritikan tersebut karena dianggap tidak
benar. Namun tahukah kamu, bahwa jika
kamu memiliki sikap yang seringkali membantah kritik, ada kemungkinan besar
kritikan yang diberikan ke dirimu itu tepat sasaran sehingga responmu jadi
marah dan tidak mau mengakui! Karena pada dasarnya, banyak manusia yang tidak
siap bila kelemahannya dibahas ataupun jika kekurangannya dikeluarkan secara
publik. Kita tidak suka perasaan bahwa kejelekan diri kita ter-expose atau
ketahuan oleh orang lain.
Ada beberapa cara untuk bikin
kritikan yang paling negatif sekalipun menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk
kita. INGAT! INI BUKAN CARA AGAR KITA
TIDAK DIKRITIK, NAMUN UNTUK MEMINIMALISIR EFEK NEGATIF KRITIKAN DAN
MEMAKSIMALKAN MANFAATNYA!!
1.
MENDENGAR
dulu baru bicara.
Hal yang
paling sulit dilakukan pertama kalinya adalah untuk dengerin sementara
seseorang lagi mengkritik apa yang kita lakukan atau katakan. Apalagi jika
kritikannya dibombardir ke telinga kita. Namun tetap saja, hal pertama adalah
untuk dengerin kritikannya. Kalau perlu, tanya lagi agar kita ngerti apa yang
sedang dikritik dari kita. Hal ini kita lakukan agar kita mendapatkan gambaran
lengkap dari karakteristik apa dari diri kita yang sedang dikritik oleh orang
lain. Jika dia tidak suka dengan penampilan kita, tanyakan aspek apa saja yang
tidak ia sukai secara detail. Jika dia tidak suka sifat tertentu dari diri
kita, tanyakan dalam situasi apa saja sifat itu keluar sehingga kita bisa
ancang-ancang mengendalikan diri di kemudian hari jika situasi muncul lagi.
2.
Anggaplah
orang tersebut sedang BERNIAT BAIK.
Kedengarannya
konyol, namun ini basic sekali walaupun susahnya luar biasa. Saat orang mengkritik
atau mengejek kita dengan sikap yang menyerang sekalipun, pada dasarnya dia
sedang menyuruh kita untuk “berubah”. Mungkin dia hanya ingin menyakiti kita,
namun yang penting adalah persepsi kita dulu terlepas dari niat mereka yang
buruk. Kita anggap dia sedang mengritik karena dia sedang mengharapkan diri
kita berubah menjadi lebih baik. Jika kritikan yang diberikan itu memang
sesuatu yang membangun dan membantu kita menjadi lebih baik, hal itu membantu
kita merasa bahwa orang tersebut peduli dan ingin kita menjadi lebih baik. Hal
ini lebih baik daripada orang yang melihat kelemahan dan kekurangan kita namun
tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan kita hancur.
3.
BEDAKAN aspek
yang sedang dikritik.
Saat
misalnya ada seorang anak yang terpeleset dan menjatuhkan alat-alat tulisnya,
kritikan yang biasa terdengar itu adalah “bodoh” atau “Nggak Becus”. Jika orang
yang sedang mengkritik kita kurang dewasa untuk melakukan hal ini, kita yang
harus melakukannya sendiri. Coba fokus, originalnya apa yang sedang dikritik
dan itu yang kita perbaiki. Dalam contoh di atas, anak tidak memperbaiki
bodohnya, namun memperbaiki kesalahannya dengan cara mengumpulkan kembali alat
tulisnya dan fokus memperhatikan sekeliling agar tidak terpeleset lagi. Jika
dia sukses melakukan itu, dia tidak akan dikatai “bodoh” atau “tidak becus
lagi. Kadangkala, orang lain mengkritik apa yang kita katakan atau kita
lakukan. Ingat! Mereka itu nggak sedang mengkritik keseluruhan diri kita, namun
hanya sedikit bagian dari diri kita saja.
4.
JANGAN menyangkal
atau membantah.
Jika
seseorang sedang mengatakan bahwa kamu melakukan kesalahan, menyangkal dan
membantah hanya akan membuktikan kamu benar melakukan kesalahan dan menambah
bahan kritikan mereka karena kamu juga ternyata “bebal”. Idealnya adalah tidak
melakukan hal-hal di atas karena kebanyakan orang yang mengkritik pasti akan
marah jika dibantah, disangkal, atau dibalas kritik sehingga hanya menambah
stress kita saja. Dalam beberapa kasus, kita menangkap kritikan yang keras itu
dengan lembut agar tidak menyakiti tangan kita sendiri. Mungkin bisa dengan
kita mengakui jika kritikan itu tepat sasaran dan memang ada aspek yang bisa
kita perbaiki. Kita juga bisa berterima kasih karena kritikan orang tersebut
telah membuat kita menjadi lebih baik. Tergantung lawan bicara, kita juga bisa
membalas memberikan SARAN (bukan kritik), namun kembali, tergantung lawab
bicara.
5.
BEDAKAN
Kritikan yang membangun dengan yang merusak
Salah satu
kunci menerima kritikan adalah mengetahui kritikan mana yang membangun dan mana
yang merusak. Kritikan yang merusak adalah kritikan yang terlalu fokus pada
aspek negatif saja, menyerang secara personal, tidak adil karena sesuatu berada
di luar kendali atau memang bukan salah kita, dan disampaikan dengan cara yang
tidak baik. Jadi jika seseorang mengkritik kita dengan maksud yang bukan untuk
kebaikan kita, ingatlah bahwa kritikan tersebut tidak ada gunanya buat kita
sehingga tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Namun jika kritikan tersebut
benar dan bertujuan untuk membuat diri lebih baik, kita harus berusaha
menerimanya dengan kepala dingin dan terbuka.
6.
KALAU Orang
mengkritik bukan karena kita namun karena negatif mereka sendiri.
Dalam
lingkungan apapun, selalu akan ada orang toxic yang mengkritik kiri kanan depan
belakang dari yang paling kecil maupun paling besar. Di sinilah tantangan kita
selanjutnya yaitu untuk mengasah EMPATI
dan mencoba memahami kenapa ia melakukan hal tersebut. Tetaplah mencoba untuk
mendengarkan dan merespon dengan cara memberitahu mereka bagaimana kritik
mereka sudah membantu kita. Mungkin dia sedang kesal dan butuh pelampiasan.
Misalnya saat orang mengkritik apa yang mereka nggak sukai dari kita padahal itu
sebenarnya fine-fine saja. Atau mereka mengkritik sesuatu yang sebenarnya isu
mereka sendiri, misalnya mereka tidak suka sesuatu yang kita sukai. Jangan dimasukkan
ke hati karena mungkin yang sebenarnya mereka kritik adalah diri mereka
sendiri. Dalam kasus ini, mungkin langkah terbaik adalah untuk tidak membalas
dalam bentuk apapun saat dia masih panas dan bicara setelah dia sudah bisa
berpikir dengan dingin.
7.
Kritikan
yang dilakukan BERULANG KALI
Salah satu
faktanya adalah, jika seseorang mengkritik hingga berulang kali mengenai
hal-hal yang sama bisa jadi kita yang tidak mau berubah sehingga kesalahan kita
muncul terus menerus dan mengundang kritik. Dalam hal ini, tentu saja cara
untuk berkembang adalah dengan menerima kritik tersebut dan melakukan langkah
untuk memperbaikinya.
Pada akhirnya, walaupun sebuah
kritikan itu benar dan kelemahan kita tertusuk, salah satu bagian dalam kita
berkembang menjadi lebih baik adalah untuk menggunakan semua hal baik yang enak
maupun yang tidak enak demi perkembangan diri kita sendiri. Walaupun seringkali
berat dan tidak enak, salah satu tahapan yang perlu kita semua lalui dalam
menghadapi hidup adalah untuk belajar menerima kritikan. Karena bagaimana
bagusnya pun diri kita, orang akan selalu dengan sukses mencari hal-hal yang
mereka bisa kritik dari diri kita. Manusia yang terlihat paling hebat, paling
bijak, paling baik sekalipun pasti ada yang setidaknya menilainya “munafik”
atau “sok tahu” atau “pamer”.
Kadang juga sangat menyebalkan
sekali saat ada orang yang mengkritik kita namun kita tidak ada di posisi yang
memungkinkan untuk membela diri ataupun membantah. Kritikan yang dilontarkan
itu benar namun dilontarkan berkali-kali hingga muak ataupun kritikan yang
tidak benar namun orang tidak mau memperbaiki diri mereka. INGAT! Kita tidak bisa mengendalikan orang lain! Yang bisa kita
kendalikan hanyalah bagaimana cara supaya orang lain tidak akan mengganggu
hidup kita, atau jika mereka mempengaruhi kitapun, bagaimana cara supaya
pengaruhnya kita minimalkan. Kesannya seperti kita mengalah, tapi tidak!
Kita membiarkan hal-hal yang menyebalkan untuk menyerempet kita, tapi tidak
membuat kita terjatuh sehingga usaha orang lain untuk menjatuhkan jadi sia-sia
dan mereka yang capek. Jika kita tidak tahan pada kritikan, secara emosi kita
akan mudah dipengaruhi orang lain semetara orang lain tidak akan selalu menjadi
positif.
Tentu saja semua hal ini tidak
mudah. Kalau mudah, pasti sudah tak menjadi masalah. Tapi kita semua punya
pilihan untuk membiarkan kritik menghancurkan kita atau malah membangun kita.
Tetap berjuang hingga suatu hari saat kita dikritik, kita bisa balas “Thank you
for helping me level up!”
THE PEOPLE
WHO ARE NOT OPEN TO CRITICISM, IS NOT OPEN TO SELF-IMPROVEMENT
LATIHAN
1. Pilih 3
kritikan yang paling sering kamu dengar dari orang lain mengenai dirimu untuk
dibahas satu per satu.
2. Jelaskan
aspek apa dalam dirimu yang sedang dikritik secara detail.
3. Evaluasi
bagian dari kritikan tersebut yang benar dan mana yang salah! Jika diberikan
kesempatan, apa yang akan kamu katakan untuk membela dirimu?
4. Coba cari
tahu apa motivasi dasar orang tersebut mengkritik! Jika dibahasakan dengan
positif, apa sebenarnya harapan dari orang yang mengkritikmu?
5. Hal-hal apa
yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kelemahan yang sedang dikritik dari
dirimu?
CONTOH :
Dari Pengalaman hidup ARY
1. Saya paling
sering dikritik “tidak berguna” oleh ibu.
2. Saat Ibu
mengatakan saya tidak berguna, biasanya karena nilai sekolah saya jelek dan saat
di rumah, saya seringkali tidak belajar karena lebih memilih main game. Ibu
juga seringkali mengatakan “tidak berguna” karena ia merasa bakat menggambar
saya itu tidak berguna. Kata “tidak berguna” juga seringkali dilontarkan saat
saya gagal melakukan sesuatu yang disuruh oleh ibu.
3. Dalam hal
akademik, memang saya salah karena saya tidak belajar dan bermain game setiap
di rumah sehingga nilai-nilai saya hancur. Saya sendiri suka malas belajar
terutama pelajaran yang tidak menarik untuk saya. Namun saya bukan anak yang
“tidak berguna”. Saya memiliki banyak bakat yang tidak bisa saya tunjukkan di
sekolah dan yang mungkin tidak dihargai oleh orang lain. Walaupun kadang saya
gagal pada saat melakukan sesuatu, saya belajar dan berhasil di kemudian hari.
Walaupun nilai-nilai saya merah dan saya tidak suka pelajarannya, saya tetap
belajar walaupun nilainya tetap tidak sempurna. Saya anak yang berguna, namun
mungkin ekspektasi ibu saya yang terlalu tinggi.
4. Saya tidak
memenuhi ekspektasi Ibu yang menginginkan saya menjadi anak yang pintar dan
selalu berhasil. Ibu saya memiliki ekspektasi yang tinggi dan didasari oleh
rasa TAKUT saya tidak berhasil. Ibu saya mengharapkan saya menjadi orang yang
bisa melakukan segala sesuatu dengan baik dan tidak pernah gagal. Hal ini
membuat ibu saya menjadi takut melihat saya gagal. Namun saya tahu ini tidak
realistis karena semua orang pasti pernah gagal.
5. Dalam hal
akademik, saya bukannya tidak bisa, saya hanya TIDAK SEMANGAT. Jadi dengan
memotivasi diri saya sendiri walaupun terus dikatai bodoh, saya menentukan
target nilai saya sendiri dan saya berusaha untuk mencapainya. Dalam hal bakat
saya yang tidak diakui oleh orang lain, walaupun tetap tidak diakui, saya
mencari sendiri cara supaya bakat saya ini bisa digunakan untuk sesuatu yang
bermanfaat. Mungkin tidak bermanfaat untuk ibu saya, namun pasti ada manfaatnya
untuk orang lain dan suatu saat bisa digunakan. Selanjutnya, saya hanya bisa
berhati-hati, menunjukkan sikap serius, dan melakukan hal-hal kecil dengan
sungguh-sungguh untuk membuktikan pada ibu saya bahwa JIKA SAYA MAU, SAYA
BISA!!
Lakukan ini sebanyak 3 kali dengan kritikan yang berbeda sampai ini terjadi secara natural dalam responmu menghadapi kritikan
Comments
Post a Comment