BOLEHKAH AKU BERMAIN GAME?
Kita
setuju bahwa kecanduan narkoba, minuman keras, judi dan kejahatan lainnya
adalah perbuatan tidak benar dan upahnya adalah neraka (1 Kor. 6:10).
Tapi banyak orang yang tidak sadar bahwa bentuk-bentuk
kecanduan semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi
dan salah satunya yang parah adalah kecanduan game.
Tak diragukan, game elektronik
bukan sekadar hiburan yang canggih. Memang, permainan itu menguji
keterampilanmu dan mengurangi kebosanan. Tetapi, bukan itu saja, game elektronik
bisa mempertajam refleksmu. Ada game yang bahkan bisa mengasah kemampuan
matematika dan membaca. Selain itu, game elektronik terbaru kemungkinan besar menjadi
topik obrolan teman-temanmu di sekolah. Jika kamu pernah bermain game itu, kamu
punya bahan obrolan dengan teman-temanmu. Namun, game-game yang disediakan
dunia zaman sekarang tidak selalu benar.
Lembaga kesehatan di Amerika menyebutkan bahwa kecanduan game
merupakan suatu penyakit jiwa atau mental disorder. Hal ini disebabkan karena
banyaknya kecanduan dan akibat buruk yang terjadi akibat kecanduan tersebut di
berbagai belahan dunia. Ada anak-anak yang mati kelaparan karena
orangtuanya kecanduan game berhari-hari. Ada pemain game yang mati karena
kecapean bermain game terus menerus. Dan berbagai gangguan kejiwaan yang
terjadi pada pecandu game. Anak-anak yang tidak mendengarkan orangtua karena
fokus pada game, anak-anak yang nilai sekolah turun karena menghabiskan waktu
lebih banyak bermain game, anak-anak yang tidak sengaja membunuh temannya
karena menirukan jurus dari game, menghabiskan uang berjuta-juta untuk membeli
item di game hingga anak-anak yang berbuat kriminal karena menganggap hal
tersebut sudah biasa karena mereka sudah sering melakukannya dalam dunia
virtual.
Firman Tuhan tidak secara eksplisit menyatakan boleh
tidaknya orang Kristen bermain video game.
Tapi, prinsip-prinsip Alkitab mengenai cara menghabiskan waktu bisa kita
jadikan pegangan. Kalau sebuah aktivitas tertentu sudah sampai mengendalikan
hidup kita, Allah memerintahkan kita untuk melepaskan diri dari hal itu untuk
sementara waktu. Kita melakukan "puasa" terhadap makanan, film, TV,
musik, video game, atau
apapun yang bisa mengalihkan perhatian kita dari pengetahuan dan kasih terhadap
Allah dan pelayanan terhadap umat-Nya.
1. Apakah bermain video game memuliakan
Allah?
Sebagai orang Kristen, kegiatan kita haruslah memuliakan
Allah (1 Kor 10:31) dan membantu kita untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan
kasih karunia Kristus. Beberapa game yang
saat ini laris menunjukkan perang antargeng, penggunaan narkoba, unsur seksual
yang gamblang, bahasa kotor, kekerasan yang hebat, darah, dan sadisme.
Beberapa game mengagungkan
praktek ilmu gaib. Banyak di antara game kekerasan bisa dimainkan bersama orang-orang
lain via Internet. RPG (permainan peran) telah menjadi amat
populer. Dalam game ini, para pemain menciptakan berbagai
karakter di Internet—entah manusia, binatang, atau campuran keduanya—yang
menghuni sebuah dunia rekaan-komputer yang diisi oleh ribuan pemain lainnya. Di
dunia rekaan ini ada toko, mobil, rumah, kelab malam, bordil—dalam banyak hal,
mirip dengan dunia nyata. Para pemain bisa saling berkirim pesan instan seraya
karakter rekaan-komputer mereka, yang disebut avatar, berinteraksi. Para pemain
bisa melakukan kegiatan yang tidak bakal mereka lakukan di dunia nyata. Hanya
dengan menekan beberapa tombol, para pemain bisa membuat para avatar melakukan
kekerasan, tindakan kriminal, ataupun perbuatan seksual. Bagaimana ceritanya perbuatan-perbuatan ini
memuliakan Allah? Apakah bermain video game menunjukkan kasih
yang saya miliki untuk Allah ataukah kasih yang saya miliki untuk hal-hal yang
dari dunia?
2. Apakah bermain video game bisa menjadi kegiatan yang baik untuk menghabiskan waktu?
Kamu akan mempertanggungjawabkan bagaimana Kamu mempergunakan
waktu Kamu yang terbatas ini di hadapan Tuhan. Menghabiskan waktu berjam-jam
untuk bermain video game tidak
bisa disebut sebagai cara yang baik dalam menggunakan waktu. "Karena itu,
perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang
bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena
hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah
supaya kamu mengerti kehendak Tuhan" (Ef 5:15-17). "Supaya waktu yang
sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak
Allah" (1 Ptr 4:2).
"'Segala sesuatu diperbolehkan,' tetapi tidak semuanya
berguna. 'Segala sesuatu diperbolehkan,' tetapi tidak semuanya membangun"
(1 Kor 10:23-24; Rm 14:19). Ketika Allah memberikan kepada kita waktu
istirahat, kita seharusnya melakukan sesuatu yang bisa membangun kita secara
spiritual. Apakah kita memilih kegiatan yang diperbolehkan ketimbang kegiatan
yang terpuji? Ketika kita memiliki pilihan antara yang “baik,” yang “lebih
baik,” dan yang “terbaik,” maka kita harus memilih yang “terbaik” (Gal
5:13-17).
3. Apakah bermain video game sesuai
dengan tujuan hidup saya?
Paulus menulis bahwa pada hari-hari akhir orang akan
"... lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah" (2 Tim 3:4).
Budaya barat cocok dengan gambaran tersebut. Kita suka bermain. Orang
non-Kristen menjadi kecanduan terhadap hiburan seperti film, olahraga, dan
musik karena mereka tidak memiliki tujuan yang lebih tinggi selain untuk
menikmati hidup ini sebelum mati.
Ketika orang-orang Kristen menjadi kecanduan terhadap hal-hal yang sama seperti orang non-Kristen, dapatkah kita benar-benar menyatakan kalau kita menunjukkan hidup yang baru "di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Flp 2:15)? Ataukah kita membuktikan kepada orang lain bahwa kita sama sekali tidak berbeda dari mereka? Bahwa Kristus tidak membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita? Alkitab mengatakan, ”Dari perbuatan-perbuatannya seorang anak laki-laki dapat dikenali, apakah kegiatannya murni dan lurus.” (Amsal 20:11) Jika kamu bermain game yang penuh kekerasan dan amoral, dapatkah kamu digambarkan sebagai orang yang murni dan lurus?
Ketika orang-orang Kristen menjadi kecanduan terhadap hal-hal yang sama seperti orang non-Kristen, dapatkah kita benar-benar menyatakan kalau kita menunjukkan hidup yang baru "di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Flp 2:15)? Ataukah kita membuktikan kepada orang lain bahwa kita sama sekali tidak berbeda dari mereka? Bahwa Kristus tidak membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita? Alkitab mengatakan, ”Dari perbuatan-perbuatannya seorang anak laki-laki dapat dikenali, apakah kegiatannya murni dan lurus.” (Amsal 20:11) Jika kamu bermain game yang penuh kekerasan dan amoral, dapatkah kamu digambarkan sebagai orang yang murni dan lurus?
LALU
BAGAIMANA DONG SUPAYA SAYA BISA LEPAS?
1.
Pahami akar masalahnya
Masalah
di balik kecanduan bermain game bukanlah game itu sendiri. Masalahnya adalah dari
diri kita sendiri. Salah satu studi psikologi menemukan beberapa alasan seorang
bisa sangat tenggelam dalam dunia game. Karena kebanyakan sistem game saat ini
memberikan sebuah reward yang biasanya tidak mudah kita dapatkan di dunia asli.
Jika kita berhasil melakukan sesuatu, kita akan mendapat imbalan langsung
seperti item baru, level up, atau mungkin sejumlah uang. Sementara di dunia
nyata tidak selalu seperti itu. Kadangkala kita harus menunggu terlebih dahulu
agar bisa mendapatkan imbalan dari susah payah kita. Hal ini menunjukkan
KETIDAKSABARAN kita untuk mendapatkan sesuatu sehingga kita lebih memilih
mencari kesenangan yang lebih cepat bisa kita dapatkan. Selain itu, studi lain
menunjukkan bahwa game berfungsi sebagai pelarian. Saat kita bermain game,
pikiran kita hanya fokus untuk menyelesaikan stage ataupun level ataupun goal
tertentu dalam game. Hal ini membuat kita melupakan sejenak kesusahan atau
tanggung jawab yang harusnya kita lakukan di dunia nyata. Apakah saat ini aku
sedang kesepian karena ditinggal oleh teman? Apakah aku sedang marah dengan
orangtua sehingga lebih baik aku mencari kesenangan di tempat lain? Apakah ada
tugas yang harusnya aku selesaikan namun aku SEDANG TIDAK INGIN? Hal ini
menunjukkan KEMALASAN dan KETAKUTAN, dimana kita lebih memilih dunia yang lebih
mudah dan lebih bisa kita kendalikan dibandingkan menghadapi masalah atau
tanggung jawab kita yang sebenarnya. Alasan sebenarnya kamu bermain game
mungkin bukan karena game itu seru atau menarik. Namun karena kamu sedang
mencoba melarikan diri dari masalah yang sedang kamu hadapi.
2.
Timbang keuntungan dan risiko jangka panjangnya
Mengingat poin pertama tadi, Apa
yang kamu dapatkan dengan bermain game? Apakah kamu mendapatkan ketenangan
karena tidak ada yang mengganggu? Apakah kamu jadi tidak harus banyak berbicara
dengan orang-orang di sekitar? Apakah kamu jadi senang sejenak karena berhasil
menang dan mencapai target dalam game? Apakah mungkin dengan cara bermain game,
entah bagaimana kamu bisa melupakan bahwa hari ini baru saja kamu mendapatkan
nilai merah dalam ulanganmu?
Tentu
saja jika dipikir dengan akal sehat, bermain game tidak membantumu mendapatkan
nilai bagus. Bermain game tidak membantu kamu untuk lebih taat pada guru.
Bermain game tidak membantu hubunganmu dengan orangtuamu. Dan tentu saja, game
tidak mendekatkan kamu dengan Tuhan. Cobalah menimbang apa yang kamu dapatkan
dari bermain game selama 15 menit, dengan apa saja yang hilang dalam rentang
waktu 15 menit tersebut.
Akan
ada suatu hari dimana kamu terlalu sangat fokus dengan game-mu, dan pada saat
kamu mengangkat wajahmu, kamu akan menyesali hal-hal yang sudah lewat sementara
kamu asik bermain game. Sementara kamu melihat layar, ternyata keluargamu
sedang berduka. Sementara kamu asik naik level di game, teman-temanmu sudah
naik kelas. Saat kamu menumpuk banyak item atau gold di dalam game, ayahmu
bokek karena bayarin pulsamu mahal. Saat kamu sibuk dengan game mu, kamu sadar
bahwa kamu tidak memiliki rencana untuk masa depanmu. Di saat seperti itu, gold
yang susah payah kamu kumpulkan di game tidak akan bisa dipakai buat membeli
makanan asli. Setinggi-tingginya levelmu di game tidak akan membantumu
mendapatkan pekerjaan. Sebagus apapun istana yang kamu bangun di dunia game
tidak akan bisa digunakan untuk mensupport keluargamu. Dan sehebat apapun
kemampuanmu bermain game, kamu tidak menjadi lebih dekat dengan Tuhan
selangkahpun.
3.
Berhenti sepenuhnya
Beberapa
orang percaya bahwa menghilangkan kebiasaan buruk adalah sebuah proses sedikit
demi sedikit. Contohnya, jika kamu ingin menghilangkan kebiasaan bermain game
di ponselmu, mulailah dengan mengurangi jumlah jam bermain setiap minggu: 5 jam
minggu ini, lalu kurangi jadi 4 jam pada minggu berikutnya, dan seterusnya.
Pada akhirnya, kamu akan berhenti bermain sepenuhnya. Meskipun beberapa orang
berhasil menggunakan cara ini, cara ini tidak selalu berhasil. Cara ini hanya
membuat beberapa orang mencari alasan untuk tetap bermain “satu kali lagi”.
Berhenti
sama sekali adalah salah satu cara yang efektif. Ambil HP mu, dan langsung
un-install game tersebut. Kalau perlu, block aplikasinya di play store sehingga
kamu tidak akan mendapat kesempatan untuk “kambuh”. Tapi hal ini harus dengan
komitmen. Jika tidak, kamu hanya akan mencari alasan untuk bermain lagi ataupun
mencari game baru yang lebih seru.
“Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai
dari sekarang” (Yohanes 8:11). Itu adalah sebuah perintah untuk berubah 180
derajat. Tuhan ingin kita meninggalkan dosa-dosa kita sepenuhnya tanpa pernah
berbalik lagi.
4.
Ganti kebiasaan lama dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik
Dengan
waktu kosong yang kini kamu peroleh, penting untuk menemukan sebuah hobi baru
atau kebiasaan baru yang memungkinkanmu menggunakan waktumu dengan bijak dan
tidak tergoda untuk kembali kepada cara hidupmu yang lama. Carilah kegiatan
yang bukan hanya menyenangkan, namun membuatmu bertumbuh secara skill,
akademik, maupun rohani (mempelajari alkitab, belajar main musik, menekuni
hobi-hobi yang selama ini terbengkalai karena habis waktunya buat main game,
waktu berkualitas dengan keluarga)
5.
Cari orang yang kamu percaya untuk membantumu
Alkitab
memberitahu kita bahwa kita menjadi lebih kuat ketika kita berjalan
bersama-sama. Pengkhotbah 4:9-10 berkata, “Berdua lebih baik dari pada seorang
diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena
kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang
jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” Ada banyak manfaat
yang kita dapatkan dari mempunyai seseorang yang dapat kita percayai untuk
membantu kita, seseorang yang dapat kita ajak berbagi pergumulan-pergumulan
kita dan menolong kita mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Kita juga dapat
menjadi bagian dari sebuah kelompok yang saling mendukung satu sama lain.
Apakah
kamu ingin lepas dari kecanduanmu juga? Satu hal penting yang perlu kita ingat
adalah ini: tindakan-tindakan kita tidak hanya mempengaruhi diri kita sendiri.
Pikirkanlah orang-orang yang kita kasihi dan pikirkanlah bagaimana
tindakan-tindakan kita mempengaruhi mereka jika kita tidak berubah. Namun di
atas segalanya, pikirkanlah segala hal yang telah Tuhan berikan bagi kita dan
harga yang telah Yesus bayar di atas kayu salib untuk menyelamatkan kita.
Pikirkan ibumu yang duduk bersebelahan denganmu namun kamu seolah ia tidak ada
karena sibuk melihat layar. Pikirkan adikmu yang kesepian bermain sendiri
karena kamu lebih suka bermain game online dengan teman-temanmu. Pikirkan
ayahmu yang sudah susah payah bekerja supaya kamu bisa sekolah seperti anak
normal, namun kamu lebih sibuk level up di game daripada di dunia nyata.
"Tetapi
apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena
Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah
melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh
Kristus... Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan
persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam
kematian-Nya" (Flp 3:7-10).
Comments
Post a Comment