Inferiority Complex
Inferiority Complex adalah sebuah kondisi psikologis yang
membuat seseorang merasa tidak mampu, tidak aman, tidak bisa melakukan sesuatu,
namun disertai dengan perasaan yang kuat untuk terlihat mampu, pede, dan hebat.
Orang-orang yang mengalami inferiority complex biasanya
merasa mereka tidak memenuhi standar, ada rasa ragu dan tidak yakin pada diri
sendiri, selalu merasa tidak bisa menjadi atau melakukan sesuatu. Dalam bahasa
sehari-hari, orang-orang seperti ini dikatakan minder. Namun kalau minder
sendiri memiliki konotasi orang yang pemalu, pendiam, menarik diri, dan tidak
mau menonjol. Definisi minder hanya menjadi setengah benar, karena banyak orang
yang memiliki inferiority complex ternyata memiliki rasa ingin terlihat
menonjol yang besar, pengen diperhatikan, dan pengen terlihat hebat. Perasaan
ingin terlihat hebat ini bisa dikeluarkan dalam bentuk perilaku maupun
dipendam. Dua orang dengan inferiority complex bisa memunculkan dua respon yang
berbeda.
Beberapa orang malah dari luar menampilkan diri pede,
bersemangat, dan terbuka pada tantangan dan prestasi. Namun di balik tampilan
yang menonjol tersebut, ada rasa kalah, rasa tidak mampu, rasa ingin selalu
mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, bercampur dengan rasa tidak
yakin bahwa dirinya diakui orang lain. Sementara beberapa orang yang lain
terpuruk dalam perasaan tidak mampunya sehingga menyembunyikan diri dari orang
lain, tidak berusaha melakukan sesuatu, ataupun menyerah sebelum berperang.
Menurut Adler, asal mula inferiority complex bisa berawal
dari masa kecil dan kualitas interaksi dengan orangtua. Anak yang hidup di
bawah orangtua yang cenderung selalu mengkritik atau selalu disadarkan bahwa ia
tidak mampu memenuhi ekspektasi orangtuanya. Anak-anak yang memiliki
kecenderungan mencari perhatian dan pengakuan dari orang lain juga rentan
karena mungkin tidak akan selalu bisa ia dapatkan. Mungkin juga ia
dibanding-bandingkan dengan saudara atau anak lain dan selalu merasa bahwa ia
“tidak cukup”. Jadi dia bertumbuh dengan keyakinan yang kuat bahwa dirinya
tidak pernah cukup. Tergantung orangnya, hal ini bisa membuat dirinya menjadi
lebih pasif ataupun agresif.
Selanjutnya, inferiority complex juga bisa muncul di masa
dewasa saat seseorang merasa bahwa ia memasang target namun gagal mencapainya. Jika
mengalami kegagalan berulang kali, semua orang pasti akan mulai merasa minder.
Namun untuk orang yang sudah mencapai level complex, semakin ia gagal, ia akan
semakin tinggi memasang target. Targetnya seringkali sulit dicapai atau malah
tidak realistik, namun setiap kegagalan menjadi “bukti” bahwa orang tersebut
memang tidak kompeten. Orang bisa memasang target yang terlalu tinggi lalu
menyalahkan dirinya saat ia tidak bisa mencapainya. Walaupun ia berhasil
mencapainya, jika tidak dipandang orang, ia merasa tidak puas.
Beberapa orang merasa mereka tidak akan pernah mampu,
sehingga mereka berhenti mencoba. Mereka menjadi takut melakukan sesuatu dan
terus merasa tidak mampu. Setiap kesalahan dan kegagalan menjadi bukti bahwa
mereka tidak mampu. Namun keinginan untuk mencapai sesuatu dan diakui orang
masih tetap ada bertabrakan dengan perasaan tidak akan pernah bisa mendapatkan
sehingga menimbulkan krisis emosional yang berkepanjangan. Ia menutup diri
karena yakin orang lain tidak akan suka pada dirinya dan orang lain akan kecewa
pada dirinya. Hal ini akan kemudian mengakibatkan berbagai macam masalah emosi
lain serta menghambat perkembangan individu dalam berbagai aspek.
Sementara, pada individu lain, inferior complex
mengakibatkan sebuah drive untuk menjadi “sempurna” yang kuat karena ia merasa
dirinya belum cukup. Hal ini mengakibatkan perilaku yang agresif, kompetetif
berlebihan, tidak mau kalah, dan perilaku menonjolkan diri yang berlebihan. Beberapa
orang berusaha kompensasi perasaan tidak mampunya dengan cara agresif mencari
area dimana ia bisa berhasil, namun jika menghadapi kegagalan, perasaan tidak mampu
akan muncul terus. Keinginan untuk berhasil yang besar mendorong dirinya untuk
menaruh standar yang “wah” agar bisa bangga dan diakui orang. Semakin besar
keinginannya untuk berhasil, dan semakin banyak ia memerlukan orang lain untuk
memberitahunya bahwa ia “berhasil”. Kalaupun ia berhasil, rasa puasnya tidak
akan mengimbangi kebutuhannya untuk merasa diakui orang sehingga polanya terus
berulang.
Alfred Adler (1907).
Comments
Post a Comment