Apakah Aku Orangtua Toxic?
Tidak ada orangtua yang sempurna. Menjadi
orangtua itu adalah tugas yang sulit. Semua orang, baik dewasa atau muda, pasti
berbuat salah dalam hubungannya dengan orang lain. Sebagai orangtua, stress
kita berlipat ganda karena kita bukan hanya memikirkan diri kita sendiri, namun
juga pasangan kita, serta anak-anak kita. Namun hal itu tidak menjadi alasan
untuk kita tidak selalu berusaha memperbaiki diri jika ada cara interaksi kita
yang menjadi pengaruh buruk untuk anak.
Adalah suatu hal yang sangat
menyedihkan, di saat seorang konselor atau psikolog anak harus mengajari anak
bagaimana cara ia menghadapi orangtuanya sendiri. Tidak mengenakkan saat seorang profesional harus mengajak anak belajar
cara mentoleransi perilaku anaknya, karena dalam kasus seperti itu, anak yang
terpaksa harus berperan sebagai orang dewasa di rumah. Orangtua tidak harus
selalu setuju dengan anak dan Anak tidak akan selalu menuruti orangtua, itu
adalah fakta dalam segala jenis pola asuh. Namun, dalam praktik pola asuh juga
ada beberapa perilaku orangtua yang menimbulkan efek negatif yang destruktif.
Untuk merubah pola asuh negatif ini adalah pilihan masing-masing orangtua,
namun semua orangtua memerlukan informasi bagaimana pola asuhnya bisa
dikategorikan TOXIC dan efeknya pada anak.
ORANGTUA YANG TOXIC TIDAK SELALU ORANGTUA YANG BURUK ATAU TIDAK BECUS!!! Hal ini sangat perlu dicamkan agar anda
sendiri tidak menjadi menyalahkan diri setelah memahami karakteristik anda yang
selama ini menimbulkan efek negatif dalam diri anak. Orangtua yang terlalu
sayang pada anak juga bisa menjadi TOXIC, walaupun secara kenyataan ia
menyayangi anaknya dan ingin memberikan yang terbaik pada anaknya.
Terlepas dari karakteristik anak
ada masing-masing atau situasi keluarga anda secara keseluruhan, ini beberapa karakteristik Toxic Parenting.
Ingat, Orangtua tidak perlu memiliki
semua karakteristik di bawah ini untuk dikategorikan Toxic :
1. Fokus ke diri sendiri dan memiliki kapasitas empati terbatas
Cenderung
mementingkan urusannya sendiri dan seringkali meminta anak untuk mengalah demi
kepentingannya. Menuntut anak untuk memahami dirinya namun tidak melakukan
sebaliknya. Dalam interaksi dengan anak, mungkin memakai kedok untuk kebaikan
anak, namun sebenarnya motivasi utama adalah untuk menyenangkan orangtua,
mempermudah tugas orangtua, atau menyingkirkan anak agar orangtua menjadi lebih
leluasa. Anak dianggap sebagai “beban” sehingga attitude orangtua menjadi
negatif ke anak hingga titik meremehkan masalah dan ekspresi emosi anak.
Efek ke anak : Anak merasa tidak diperhatikan,
persepsi negatif ke orangtua, merasa kurang kasih sayang sehingga memiliki
kecenderungan untuk menunjukkan masalah perilaku.
2. Tidak menunjukkan rasa hormat
2. Tidak menunjukkan rasa hormat
Menunjukkan
perilaku merendahkan anak dan tidak menghargai anak. Kemungkinan besar
dilakukan juga ke orang lain selain anak. Merendahkan bisa menggunakan
kata-kata maupun perilaku, bisa secara personal maupun secara publik. Tidak
menghormati pendapat anak dan seringkali membantah perkataan anak. Meminta
pendapat anak namun menjatuhkan anak saat pendapat anak tidak sesuai harapan.
Efek ke
anak : Anak yang merasa tidak dihormati akan mencontoh perilaku tidak hormat ke
orangtua dan orang lain. Attitude anak pada orang lain akan menjadi cerminan
bagaimana orangtua memperlakukan anak di rumah.
3. Terlalu Mengontrol
3. Terlalu Mengontrol
Bersikap
mengekang dan mengendalikan anak, umumnya sampai hal yang paling kecil
sekalipun seperti cara menulis, cara berjalan, cara mengerjakan tugas, tidak
membiarkan anak melakukan sesuatu secara mandiri. Umumnya ini dilakukan dengan
usaha untuk membuat anak berperilaku sama persis seperti apa yang menjadi
standar orangtua. Menunjukkan adanya sikap perfeksionis dalam diri orangtua
yang ingin mengatur hidup anak sesuai dengan ekspektasi orangtua.
Efek pada anak : Anak tumbuh dengan
identitas yang melekat dengan orangtua secara tidak sehat. Hal ini
mengakibatkan konsep diri anak berkurang, tidak memiliki kemampuan membuat
keputusan, tidak mampu memilih, tidak mampu menyatakan pendapat sendiri. Pada
beberapa anak yang temperamennya lebih keras, kebanyakan anak akan
mengembangkan perilaku membangkang.
4. Angry
4. Angry
Emosi yang
paling sering ia tunjukkan saat berbicara pada anak adalah marah. Amarah
berlebihan saat anak melakukan kesalahan serta melampiaskan amarah secara tidak
adil ke anak walau masalah tidak berkaitan.
Efek pada anak : Anak umumnya menjadi pasif
saat di hadapan orangtua, namun amarah menjadi respon emosi pertama mereka
dalam menghadapi konflik karena terpengaruh contoh dari orangtua
5. Bersikap kritis secara berlebihan.
5. Bersikap kritis secara berlebihan.
Mengkritik
setiap langkah kaki anak, cara anak berperilaku, cara anak duduk, cara anak
menggosok gigi, sepertinya hal paling kecil yang dilakukan anak pun selalu ada
ruang untuk dikritik. Selalu mencari kesalahan anak dan mengkaitkan kritikan
yang satu dengan kesalahan anak yang lain sehingga kritikan bertambah. Kemungkinan
indikasi sifat perfeksionis pada orangtua.
Efek ke anak : Harga diri dan kepercayaan diri
anak jatuh sehingga akan muncul perilaku mengkritik diri sendiri. Anak
mengadopsi perfeksionisme orangtua, namun di saat yang sama dihantui oleh
perasaan gagal, tidak mampu, dan tidak cukup. Menimbulkan konflik internal yang
berat seiring anak bertumbuh.
6. Manipulatif
6. Manipulatif
Memutar
balikkan fakta atau peraturan untuk mencapai keinginannya. Membohongi anak dan
mengingkari janji. Menggunakan aturan untuk mengendalikan perilaku anak secara
eksesif, biasanya disertai hukuman dan ancaman. Memuji anak secara eksesif dan
tidak tulus supaya anak tidak memberontak. Melakukan gerak-gerik untuk
menimbulkan rasa bersalah dalam diri anak.
Efek ke anak : Anak menjadi paranoid karena ia
tidak bisa membedakan apakah orangtua sedang jujur atau berbohong. Sangat
merusak kepercayaan anak ke orangtua sehingga mempengaruhi kepercayaan anak
dengan orang lain di lingkunga. Dalam anak remaja, hal ini membuat anak menjadi
sensitif terhadap kebohongan dan penghianatan teman atau guru.
7. Sering Menyalahkan
7. Sering Menyalahkan
Jika anak
berbuat salah, orangtua akan terus menerus menyalahkan anak bahkan jika
kesalahannya sudah selesai. Jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai
rencana, orangtua cepat menyalahkan anak walaupun belum tentu salah anak. Dalam
beberapa kasus, orangtua akan secara internal menyalahkan anak atas penderitaan
hidupnya, masalah pernikahan atau pekerjaannya, atau masalah-masalah kecil
selalu menemukan kaitan ke anak.
Efek pada anak : Anak akan merasa tidak aman
dalam bertindak karena ia mengantisipasi bahwa jika ada kesalahan, ia akan
disalahkan. Perilku menyalahkan diri sendiri muncul dengan kepercayaan bahwa
segala sesuatu yang buruk terjadi karena salahnya. Dalam beberapa kasus, anak
akan terus menyalahkan diri, namun dalam beberapa kasus, anak akan mencari
orang lain untuk disalahkan demi menghindari hukuman.
8. Terlalu Menuntut
8. Terlalu Menuntut
Orangtua
terlalu banyak menuntut anak harus melakukan sesuatu sesuai keinginan orangtua.
Menuntut anak untuk bisa sempurna, menuntut anak melakukan sesuatu segera
setelah diberikan instruksi, menuntut hal-hal yang tidak realistis dari anak.
Biasanya disertai dengan kritikan jika anak gagal memenuhi tuntutan.
Efek pada anak : Anak yang dituntut terus
menerus bisa saja berhasil dan berprestasi, namun dengan kemampuan emosional
yang dangkal dan kemandirian yang sangat lemah. Jika suatu hari tidak ada
tuntutan, anak kehilangan arah karena selama ini tujuan hidupnya adalah mencapai
target orangtua. Anak akan kehilangan identitas diri di luar keluarga dan
menyebabkan krisis identitas di kemudian hari.
9. Mempermalukan anak
Mempermalukan
anak baik secara publik maupun saat sedang disiplin pribadi. Biasanya merupakan
respon dari kesalahan yang diperbuat anak, menggunakan verbal maupun fisik,
dilakukan demi memberikan efek jera dan malu bagi anak. Namun dilakukan secara
eksesif dan tidak pada tempatnya. Beberapa orangtua toxic mempermalukan anak
dengan cara menjelekkan atau mengumbar keburukannya di depan orang lain sebagai
topik bercanda.
Efek pada Anak : Anak merasa malu. Malu yang
berlebihan membuat anak tidak berani inisiatif melakukan sesuatu karena takut
gagal. Kalau gagal, anak mengalami rasa penyesalan dan rasa bersalah yang
berlebihan. Beberapa anak mengambil langkah dengan cara berbohong dan menutupi
kesalahan demi tidak merasa malu.
10. Kejam
Melakukan
hal-hal yang kejam terhadap anak seperti menghukum secara fisik, maupun dengan
sengaja menyakiti anak. Memperlakukan anak semena-mena tanpa alasan yang logis,
seperti memukul anak karena ada masalah pekerjaan hingga perlakuan tidak adil
yang disengaja dengan mengungkit kelemahan anak. Misalnya, memberikan sesuatu
ke adik di depan anak dan memberikan bahwa anak tidak mendapatkan sesuatu itu
karena anak tidak melakukan sesuatu yang diinginkan orangtua. Anak harus
menuruti orangtua atau akan diberikan hukuman berat
Efek pada Anak : Anak dengan pola asuh dominator
akan tumbuh menjadi orangtua dominan. Di sisi lain, anak belajar bahwa cara untuk
mendapatkan apa yang ia mau adalah dengan kekerasan sehingga memiliki resiko
menjadi bully. Di sisi lain, anak juga bisa menjadi pasif dan membiarkan orang
lain menindasnya.
11. Tidak punya Batasan
11. Tidak punya Batasan
Tidak
memberikan anak privasi. Selalu ingin tahu setiap urusan anak. Tidak membiarkan
anak menghadapi masalah atau tugas sendiri bahkan hingga yang paling kecil.
Selalu merasa harus tahu semua urusan anak mulai dari pergaulan, pelajaran,
hingga kadangkala mengambil alih secara paksa. Perilaku ini juga biasa disertai
dengan mengkritik dan mengontrol. Semua aspek dalam hidup anak harus berada di
bawah pengawasan orangtua. Mungkin disertai dengan pemberian jam malam yang
ketat, aturan yang banyak, serta kewajiban anak untuk terbuka pada orangtua.
Efek pada Anak : Saat anak merasa dia tidak
memiliki kehidupan pribadi, orangtua sedang menjajah personal space nya.
Beberapa anak beresiko menjadi pasif dan membiarkan orangtua melakukan itu
seumur hidup. Anak jadi hidup seperti tawanan dimana ia merasa bahwa tidak ada
kebebasan di rumah dan hidupnya selalu diawasi. Hal ini beresiko membuat anak
merasa paranoid sehingga tidak efektif dalam lingkungannya. Sebaliknya, anak
yang merasa tidak ada privasi juga bisa melawan demi merebut kembali
privasinya.
12. Enmeshed
12. Enmeshed
Mengandalkan
anak untuk segala hal, mengharapkan anak untuk membantu semua urusan orangtua,
menyuruh anak untuk memahami kemauan orangtua dan harus bisa mengerti kesulitan
yang sedang dialami orangtua. Dalam hal ini, orangtua membuat anak merasa
bersalah jika anak tidak melayani dan memenuhi keinginan orangtua. Hidup anak
terikat dengan keberadaan keluarga dan setiap keputusan pribadi anak harus
memikirkan keluarga.
Efek pada Anak : Anak menjadi tidak bisa
mandiri karena pemilihan keputusannya bukan memikirkan kebaikannya namun
approval orangtua. Anak memiliki rasa bersalah dan merasa jadi anak durhaka
jika menolak perminataan orangtua. Hidup anak diprogram untuk menempel pada
kepentingan orangtuanya, bahkan saat anak nanti memilii keluarga sendiri,
dimana keputusan orangtua menjadi faktor yang tidak bisa lepas. Contoh : Anak
mendasarkan pasangan idealnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh
orangtua. Anak tidak punya identitas dan tujuan hidup sendiri.
13. Competetive
13. Competetive
Menuntut
anak untuk selalu mencapai sesuatu, tidak boleh kalah dari orang lain,
membandingkan anak dengan anak lain, baik saudara maupun anak orang asing.
Memaksa anak untuk tidak pernah puas dan mungkin menggunakan keberhasilan anak
lain untuk mendorong anak.
Efek pada anak : Bila dilakukan secara
positif, anak mendapatkan jiwa kompetetif sehingga prestasinya akan terdorong,
namun dalam pola asuh Toxic, hal ini cenderung dilakukan secara berlebihan.
Anak menjadi memiliki jiwa kompetetif yang agresif sehingga resiko menghalalkan
segala cara untuk merasa menang. Jika kalah, anak menjadi memiliki inferiority
complex. Dalam hubungan dengan saudara, hal ini menciptakan sibling rivalry.
14. Interaksi negatif
14. Interaksi negatif
Kebanyakan
interaksi dengan anak selalu meninggalkan emosi negatif. Interaksi dipenuhi
dengan konflik, ketegangan, atau emosi negatif. Respon emosi anda yang pertama
adalah negatif, anda berekspektasi anak akan gagal, berontak, tidak mampu, dan
lain-lain. Anda sudah berekspektasi bahwa percakapan dengan anak pasti akan
dipenuhi dengan kemarahan, kekecewaan, rasa sedih, dan lain-lain.
Efek ke anak : hal ini menunjukkan bahwa persepsi
anda ke anak sudah negatif dan anda melihat anak anda sebagai seseorang yang
negatif. Sebaliknya, anak anda juga kemungkinan besar menilai anda sama
negatifnya.
15. Reaktif secara emosional
Merespon dengan cepat dan dengan emosi yang intens saat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Mudah marah, mudah tersinggung, dan mudah menyerang secara verbal maupun fisik. Orangtua yang reaktif cenderung impulsif sehingga merespon anak dengan emosi marah yang meledak dan berlebihan tanpa menggali lebih dalam.
Efek pada anak : Anak belajar bahwa cara untuk mendapatkan apa yang ia mau adalah dengan cara meledak secara emosional. Karena selama ini, orangtua mendapatkan apa yang mereka mau dengan cara mengamuk, berteriak, dan lain-lain. Orangtua yang menerapkan pola asuh reaktif akan memiliki anak yang sering tantrum.
Pada dasarnya, dalam perkembangan anak, rasa bersalah, rasa malu, rasa
takut, marah, sedih adalah perasaan-perasaan yang wajar dan malah harus
dirasakan setiap anak. Anak harus merasakan pahitnya kegagalan sesekali agar
dia bisa termotivasi untuk menang. Anak harus merasakan rasa bersalah agar dia
bisa lebih berempati pada orang lain saat ia melakukan kesalahan. Namun jika
orangtua menyebabkan emosi-emosi ini muncul dalam diri anak secara berlebihan
dan tidak pada tempatnya, alih-alih menjadi sesuatu yang wajar, hal ini akan
menjadi sangat destruktif dalam diri anak. Efek
dari hal-hal ini akan terasa hingga anak-anak dewasa, bahkan setelah orangtua
tidak ada, selalu ada kemungkinan anak akan meneruskan pola destruktif ini ke
dirinya sendiri dan ke anaknya kelak.
Jangan merasa bahwa anda adalah
orangtua yang gagal ataupun tidak becus jika ternyata anda memiliki
karakteristik Parenting Toxic. Hal paling sulit adalah mengakui bahwa ada
hal-hal yang tidak efektif dalam pola asuh anda saat ini, lalu mencari cara
menghentikannya. Jika semua pihak sudah terperangkap dalam pola toxic, harus
ada pihak yang memulai perubahan. Pada akhirnya, seberapa parahpun kondisi anda
dengan anak anda saat ini, perubahan hanya bisa dimulai saat ada pihak yang mau
memulai. Kalaupun anda saat ini merasa
anda sudah menjadi Toxic untuk anak, yang penting adalah apakah anda memiliki
niat dan komitmen yang cukup untuk memperbaiki hal ini.
The beauty of parenting is that
adults do not produce children, but children produce parents.
Comments
Post a Comment